POSTING

Rabu, 26 Januari 2011

WARGA KREATIF DARI DUSUN KADEMANGAN DESA DLANGGU

Saat Warga Kademangan Atasi Beban Sampah dengan Alat Rakitan Sendiri








Tiga Tahun Api Tak Padam Musnahkan Sampah, Abunya untuk Pupuk

Masalah sampah mungkin merupakan masalah yang sangat kompleks bagi sebagian warga khususnya warga kota. Namun bagi warga Dusun Kademangan, Desa/Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, sampah tidak lagi menjadi beban. Dua warganya ciptakan alat pembakar sampah tanpa bahan bakar yang berhasil atasi problem sampah.

CukX__ Mojokerto


BAU sampah sangat terasa di pinggir lapangan Dusun Kademangan, Desa/Kecamatan Dlanggu pagi kemarin. Maklim saja, di pinggir lapangan yang selalu dijadikan tempat berolahraga warga setempat ini dijadikan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah milik warga.
Namun tidak seperti kebanyakan TPA yang terdapat penumpukan sampah, di TPA dusun ini hanya sedikit sampah yang menumpuk. Padahal, jika dilihat dari sumber sampah yang masuk ke TPA ini, sampah tidak hanya berasal dari warga sekitar, melainkan dari pasar yang berjarak satu kilometer.
Lalu kemana sampah-sampah yang menumpuk itu? Jawabannya ternyata berada di sebuah alat sederhana yang diciptakan dua warga sekitar. Alat ini memiliki fungsi membakar segala macam sampah, baik sampah basah ataupun sampah yang berukuran besar. Hebatnya lagi, saat membakar, alat ini tidak memerlukan bahan bakar apa pun.
Adalah Kurdi, 50, dan Saliku, 52, pembuat alat pembakar sampah yang didesainnya secara sederhana namun memiliki manfaat luar biasa.
Dikatakan keduanya, alat yang diciptakan mereka hanyalah menggunakan sistem udara, sehingga api tidak mati dan dapat membakar tumpukan sampah. Alat tersebut hanya terbuat dari besi cor setinggi 120 cm. Bagian bawah di-las sedemikian rupa hingga membentuk segitiga dengan lima garis besi di tengahnya.
’’Dari sini udara nantinya keluar dan memompa api sehingga terus menyala,’’ terang Saliku sambil menunjuk jarinya ke arah bawah.
Sekitar lima sentimeter dari bagian dasar, terdapat delapan besi memanjang secara horizontal sepanjang lima sentimeter. Diatasnya lagi, delapan besi dengan ukuran lebih panjang yakni tujuh sentimeter. Alat ini diletakkan dalam sebuah bangunan seluas 100 cm persegi yang juga digunakan untuk menempatkan sampah-sampah yang nantinya akan dibakar.
’’Alat ini sudah digunakan sejak bulan Januari 2006 lalu, jadi sudah tiga tahun alat ini membakar tanpa henti,’’ ungkap Saliku. Dijelaskan pria yang juga bekerja di bagian telematika Polres Mojokerto ini, saat tahun 2006 lalu, awalnya ia memasukkan alat yang diciptakannya ke dalam bangunan pembakar sampah dan meletakkan sampah-sampah yang akan dibakar.
’’Sampah-sampah yang dibakar awalnya sedikit, lalu di bagian bawah alat ini saya bakar tanpa menggunakan bahan bakar, setelah api membara, sampah lainnya saya masukkan,’’ katanya.
’’Begitu sampah mulai habis, sampah-sampah kembali dimasukkan sehingga api terus menyala hingga tiga tahun lamanya,’’ sambut Kurdi. Sampah-sampah yang dibakar tadi akhirnya menjadi abu yang dapat diambil melalui lubang berukuran 60 cm x 20 cm untuk dibuang.
Tidak jarang sebagian warga memanfaatkan abu hasil pembakaran sampah untuk pupuk tanamannya. ’’Mereka percaya abu ini bisa digunakan untuk pupuk, saya juga tidak melarang mereka mengambil,’’ terang Saliku.
Hasil penemuan yang dilakukan Kurdi dan Saliku akhirnya direspons positif oleh masyarakat sekitar. Tanggapan serupa juga muncul dari pengurus dinas pasar setempat. Kini, sampah-sampah yang ada di pasar hampir seluruhnya dibakar di TPS ini.
Keduanya mengaku tidak mematok harga kepada siapa pun yang ingin menggunakan alat ini. Namun mereka hanya memerlukan dana untuk pemeliharaan saja. Keduanya juga mengaku mendapat uang pemeliharaan dan perawatan dari pengelola pasar sebesar Rp 250 ribu.
’’Ya cukup untuk biaya minum dan rokok,’’ terang Saliku. ’’Saya tidak memiliki maksud dan niat apa-apa saat menciptakan alat ini, semuanya hanya keinginan untuk mengatasi masalah sampah,’’ ujar Kurdi.
Dalam sehari, alat ini bisa membakar 3 sampai lima ton sampah yang berasal dari warga dan pasar. Selain dikelola oleh mereka berdua, pengelolaan sampah juga dibantu oleh Bambang Suharto, yang tak lain adalah adik ipar Saliku. ’’Bambang bertugas membawa sampah-sampah dari pasar untuk dibakar di sini,’’ kata Saliku.
Baik Saliku maupun Kurdi menceritakan awal penemuan alat ini. ’’Tiga tahun lalu saya melihat tayangan televisi yang membahas persoalan sampah, dari situ saya tercetus ide membuat alat yang bisa membakar sampah, akhirnya saya dan Pak Kurdi langsung membuat desain alatnya,’’ terang Saliku.
Hanya berbekal keyakinan dan sedikit modal, keduanya membuat alat yang diyakininya bisa mengatasi persoalan sampah. ’’Setelah beberapa lama, alatnya jadi dan langsung di-ujicoba-kan, hasilnya tidak mengecewakan,’’ ungkap Kurdi yang mengaku pernah bekerja sebagai pemborong.
Kini, keduanya telah membuat satu lagi alat sebagai pengganti alat lama. ’’Yang lama memang perlu diganti, sudah tiga tahun terbakar,’’ ungkapnya.
Bangunan yang digunakan untuk membakar sampah rencananya juga akan diperbaharui dengan menambah alat cerobong asap sehingga asap yang keluar tidak mengganggu warga lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar