POSTING

Kamis, 27 Januari 2011

BUDIDAYA JAMUR

Melongok Budidaya Jamur Konsumsi di Gondang, Kabupaten Mojokerto






Manfaatkan Serbuk Gergajian untuk Media Pengembangan

Dewasa ini budidaya jamur konsumsi telah mendapatkan tempat tersendiri di kalangan petani Desa/Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto. Hasil budidaya jamur ini sangat menjanjikan dari segi ekonomis dan manfaatnya. Bagaimana cara pembibitan dan budidaya jamur tersebut?

CukX__ Mojokerto


LANGGAM dangdut dari sebuah radio tua mengiringi enam pekerja perempuan di sebuah gudang budidaya bibit jamur di Desa/Kecamatan Gondang. Keenam perempuan dengan mengenakan kaos dan penutup kepala tampak serius membungkus butiran-butiran jerami ke dalam plastik atau yang biasa disebut polybag. Para pekerja perempuan ini memang sedang serius membuat bibit jamur melalui media serbuk kayu.
’’Pekerja di sini seluruhnya ada dua puluh lima orang, delapan pria dan tujuh belas perempuan,’’ terang Sutris, pekerja asal Desa Padi, Kecamatan Gondang.
Menurut pria berusia 28 tahun ini, jamur adalah salah satu bahan makanan yang bergizi tinggi nonkolesterol. Dalam budidayanya, jamur merupakan tanaman yang ditanam dengan temperatur, kelembaban dan ventilasi yang terkontrol.
Pengembangan teknik budidaya ini dipermudah dengan menggunakan bibit sebar dengan media yang mudah dan murah. Alat press dan alat sterilisasi direkayasa sendiri sehingga mudah dilaksanakan dengan hasil yang baik.
Untuk bertani jamur konsumsi ini tidaklah
sulit, batangan kayu dihaluskan dan diambil serbuknya. Serbuk hasil gergajian tersebut harus direndam atau disiram dengan air terlebih dahulu selama 15 hari, untuk menghilangkan kandungan minyaknya.
Memang, tidak sembarangan kayu bisa dijadikan pembibitan sebuah jamur konsumsi. Melainkan harus bisa memilih kayu yang tidak banyak mengandung minyak, seperti kayu mauni dan sengon laut.
Setelah direndam selama 15 hari serbuk-serbuk halus tersebut dimasukkan dalam sebuah kantong plastik ukuran 1 kilogram. Serbuk tersebut dipadatkan dan diberi lubang tengahnya untuk pertumbuhan jamur. Lalu serbuk yang sudah dipadatkan tersebut ditutup dengan kapas dan dimasukkan dalam sebuah gudang oven dengan suhu tertentu selama 24 jam.
Dan selanjutnya akan dibagikan kepada para kelompok tani. Oleh para petani, bibit-bibit jamur akan ditempatkan pada sebuah tempat yang lembab dan tidak terkena sinar matahari secara langsung. Jamur itu sendiri akan mulai tumbuh di usia 40 hari.
Salah seorang petani jamur, Achmad Badrowi, 40, mengungkapkan, dari hasil pembibitan tersebut dapat diperoleh tiga jenis jamur seperti jamur lingsi/jamur kuping serta jamur hitam putih. Jamur ini selain dapat dijadikan sayuran dapat pula dijadikan obat-obatan serta tidak mengandung bahan kimia. Dia juga mengungkapkan, jamur memiliki banyak khasiatnya.
’’Biasanya orang mengonsumsi jamur bukan hanya lantaran rasanya yang lezat, tetapi juga karena alasan lain, yakni manfaat dan khasiat yang terkandung di dalamnya,’’ ungkapnya. Bisa disebut, faktor khasiat dan manfaat inilah yang menjadi prioritas konsumen jamur.
Tujuannya tentu saja demi kesehatan tubuh atau hal lain yang berkaitan dengan vitalitas. Tidaklah mengherankan jika berbagai jenis jamur kini menjadi bagian dari menu favorit di sejumlah rumah makan.
Dari hasil penelitian, jamur yang biasa dimakan rata-rata mengandung 14-35 persen protein. Dibandingkan dengan beras (7,38 persen) dan gandum (13,2 persen), jamur berkadar protein lebih tinggi.
Secara umum, jamur termasuk dalam jenis sayuran yang mengandung sedikit sekali protein dan hidrat arang, seperti halnya kangkung, ketimun, kool, kembang kool, tauge, sawi. ’’Karena kandungan kalorinya rendah, jamur boleh dimakan sekehendak atau bebas tanpa memperhitungkan banyaknya,’’ ungkap Widodo petani lainnya.
Menurutnya, jamur konsumsi, yang berkembang dibudidayakan hingga saat ini adalah jamur jenis tiram putih, coklat dan merah muda. Jamur ini, tumbuh di kayu yang mengalami pelapukan atau yang sudah mati, tumbuh pula di ilalang, sampah tebu dan sampah sagu.
Jamur tersebut tidak beracun dan boleh dimakan. Jamur yang tergolong beracun dan tidak dapat dikonsumsi, lanjutnya, jika jamur tiram misalnya, tumbuh di kayu yang masih hidup, tumbuh di bangkai, kotoran ayam atau binatang ternak.
’’Jika termakan, jamur jenis ini akan menyebabkan keracunan dan dalam konsentrasi racun tinggi dan bisa menyebabkan kematian,’’ ujarnya.
Ciri-ciri jamur beracun antara lain, umumnya tangkai payungnya bergelang atau terdapat lingkaran menyerupai cincin. Tapi, katanya, tidak semua yang bergelang merupakan jamur beracun. Selain itu, aroma jamur akan terasa berbau sangat tajam, jika dipotong terdapat cairan kekuning-kuningan dan berlendir. ’’Jika terdapat tanda-tanda tersebut, sebaiknya jamur ini jangan dikonsumsi,” katanya.
Sutikno, petani lainnya mengungkapkan, untuk saat ini kendala utama yang paling dirasakan oleh para petani jamur adalah kurangnya dana. Mereka berharap kepada pemerintah daerah setempat memberikan bantuan dana maupun penyuluhan, sehingga para petani bisa mengembangkan lebih baik lagi budidaya jamur konsums

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar