POSTING

Kamis, 27 Januari 2011

PERUM JASA TIRTA MOJOKERTO

Melongok Pengaturan Debit Air Sungai Brantas di Musim Penghujan








Setiap Jam Periksa Debit Air, 24 Jam Selalu Siaga

Hujan deras yang turun beberapa hari belakangan ini memang membuat pihak Jasa Tirta I bekerja lebih ekstra mengatur air di Sungai Brantas. Seperti apakah kerja serta peran Jasa Tirta I. Bagaimanakah cara kerja Jasa Tirta I mengatur arus air di Sungai Brantas agar tidak terjadi banjir di Mojokerto?


CukX__ Mojokerto


RUANGAN lantai dua kantor Perum Jasa Tirta I yang berada di Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, Kecamatan Mojokerto terasa sepi. Di ruangan berukuran 8x10 meter ini, hanya ada dua penjaga yang selalu mengawasi Sungai Brantas.
Jika dilihat dari ruangan ini, pintu air sungai brantas yang menjadi salah satu objek vital di Mojokerto terlihat jelas. Maklum saja, di ruangan ini memang berfungsi sebagai pemantau dan ruang kontrol pintu arus air Sungai Brantas.
Dua petugas masing-masing bernama Susilo dan Soleh terlihat sangat serius mengamati alat panel kontrol yang berada di sebelah kiri pintu masuk ruan kontrol. Alat berukuran 5x3 meter ini merupakan alat utama yang berfungsi untuk pengaturan arus air, buka tutup pintu air dan mengetahui kletinggian elevasi maupun debit air.
’’Debit air sungai saat ini normal, sekitar 470 kubik per detik, angka ini merupakan angka yang menunjukkan kalau debit air normal, berbeda dengan tiga hari lalu,’’ ujar Susilo yang ditemui sekitar pukul 14.00. Susilo memang bisa sedikit bernafas lega jika dibandingkan dengan tiga hari lalu yakni pada tanggal 2 Februari 2009. saat itu, Debit air menunjukkan angka 1072 kubik per detik. Angka yang menjadikan status Sungai Brantas menjadi siaga merah atau siaga banjir. ’’Tapi setelah itu angka terus menurun dan sudah tidak lagi menjadi status siaga,’’ tambah Susilo.
Peranan Jasa Tirta memang bisa dibilang vital dalam pengaturan air sungai. Maklum saja, air sungai banyak dibutuhkan oleh seluruh masyarakat. Baik itu untuk industri, irigasi, PDAM, PLTA dan pemeliharaan lingkungan. Bahkan, hampir 80 persen pengairan Sungai Brantas digunakan untuk sistem irigasi oleh petani.
Kepala Sub Divisi Air dan Sumber Air Perum Jasa Tirta I, Zainal Alim mengungkapkan, air sungai perlu dilakukan pengaturan agar bisa menguntungkan semua pihak. ’’Air perlu dikelola secara bijak, harus diperhatikan baik kualitas maupun kuantitasnya, kalau air terlalu banyak bisa merugikan dan kalau air sedikit juga sangat merugikan,’’ ujar Zainal.
Baik musim hujan maupun kemarau, Jasa Tirta memang selalu selalu bekerja ekstra keras. Zainal Alim mengatakan, ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam pengaturan air, yakni suplai atau ketersediaan air atau kebutuhan air.
Jika musim kemarau, Jasa Tirta harus pintar-pintar melakukan pengaturan air agar bisa dimanfaatkan oleh semua pihak. Ia mencontohkan, jika musim kemarau, air bisa sangat berkurang. ’’Meski kemarau, air tetap dibutuhkan oleh masyarakat, untuk itu dibutuhkan manajemen pengaturan air agar kebutuhan air bisa tercukupi,’’ ungkapnya.
Untuk itu, ia selalu berusaha melakukan koordinasi dengan berbagai instansi dengan melakukan rapat pengaturan tata pengaturan air. ’’Tujuannya agar masyarakat pengguna air bisa paham berapa air yang tersedia dan berapa kebutuhan yang harus dicukupi,’’ katanya.
Sama halnya dengan musim kemarau, disaat musim hujan, limpahan air di Sungai Brantas pun harus diatur sedemikian rupa agar tidak terjadi luapan dan banjir. Pengaturan tersebut dilakukan dengan membuka tutup pintu air yang ada di beberapa tempat. Yakni di pintu air Sungai Brantas Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, pintu air Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto dan beberapa pintu air lainnya.
Dengan adanya pola alokasi air atau manajemen pengaturan arus Sungai Brantas, warga Mojokerto tidak perlu merasa resah terjadinya banjir yang diakibatkan hulu sungai. ’’Semua sudah diatur setiap saat dengan mengalihkan arus sungai di pintu air Desa Mlirip,’’ katanya.
Pihak Jasa Tirta juga selalu melakukan pemeriksaan ketinggian debit air setiap jamnya. ’’Debit air perlu dilakukan pengecekan agar bisa diketahui apa status sungai, sehingga dengan diketahui statusnya, ada antisipasi dini terjadinya sesuatu,’’ ungkap Zainal. Untuk menegtahui jumlah debit air, ada alat di ruangan panel kontrol yang langsung mencatat ketinggian air.
Di alat ini, terdapat tiga lampu yakni merah, kuning dan hijau yang menunjukkan status sungai. ’’Kalau statusnya merah, lampu merah akan menyala, begitu juga seterusnya,’’ ungkapnya.
Dijelaskannya, ada tiga kriteria penetapan status siaga di Sungai Brantas. Yakni siaga hijau jika ketinggian debit air mencapai 750 meter kubik per detik, siaga kuning jika ketinggian debit air mencapai 850 meter kubik per detik dan siaga merah jika debit air lebih dari 950 meter kubik per detik.
Alat tersebut juga terdapat tombol pembuka dan menutup air. Secara total, dipintu air Brantas terdapat delapan pintu yang berfungsi untuk mengatur arus air. ’’Makanya pintu air ini bisa dibilang alat vital, karena disinilah kunci yang bisa mencegah Kota Mojokerto dan sekitarnya dari banjir, kalau musim hujan tidak dibuka, maka banjir besar pasti datang,’’ katanya.
Dalam melakukan sistem pengaturan air, pihak Jasa Tirta sendiri juga dibantu masyarakat dengan menerapkan sistem early warning system yakni sistem peringatan dini berbasis masyarakat.
Yakni dengan meletakkan alat yang bisa memantau status perairan sungai. Alat tersbeut dipasang di beberapa anak Sungai Brantas yakni Sungai Sadar, Sungai Marmoyo,Sungai Kambing,Sungai Brangkal dan Sungai Porong. ’’Di sungai Porong ada tujh unit alat karena ditempat ini merupakan tempat pembuangan banjir,’’ katanya.
Alat-alat ini dirawat sendiri oleh masyarakat sekitar. Sehingga sistem ini memang berbasis masyarakat. ’’Masyarakat diberikan fasilitas seperti ponsel dan pulsa agar bisa memberikan informasi secepatnya kepada kita, setelah itu akan dilakukan koordinasi dan petugas juga akan mendatangi lokasi jika ada sesuatu,’’ kata Zainal Alim

TPS UNIK DI MOJOKERTO

Kiat Rangsang Warga Nyontreng dengan TPS Unik







Dana Urunan, Tiap Pemilihan Selalu Berbeda Tema

Banyak cara untuk mengajak warga menggunakan hak pilihnya pada Pilpres 2009 kali ini. Salah satunya mendesain tempat pemungutan suara (TPS) semenarik mungkin. Seperti yang dilakukan warga Lingkungan Kedung Kwali, Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon.

CukX__ Mojokerto


JAM sudah menunjukkan pukul 07.00. Udara pagi itu cukup
terasa dan terlihat mendukung momentum besar Pilpres 2009. Beberapa warga di Lingkungan Kedungkwali Gang IX Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto tampak berjalan kaki menuju lokasi TPS 6. Tetapi ada juga diantara mereka yang menggunakan motor.
Tidak sulit menemukan lokasi TPS itu. Hanya butuh waktu dengan berjalan kaki sekira 5 menit dari depan gang. Begitu memasuki Lingkungan Kedungkwali Gang IX Kelurahan Miji, pandangan mata akan tertuju pada TPS 6, di pekarangan warga setempat.
Betapa tidak, TPS dihias dengan unik. Berbagai sayuran dan kerupuk ada di sana. Sebuah tenda tampak berdiri kokoh dengan tanaman hias gantung
yang memanfaatkan media pot, yang terbuat dari botol plastik di sekitarnya.
Di bawah tenda, berjejer kerupuk berukuran besar yang digantung dengan menggunakan tali. Kerupuk-kerupuk dengan ukuran diameter sekitar 30 sentimeter tersebut terbungkus plastik transparan.
Di bagian tepi tenda, berbagai macam sayuran seperti terong, ubi jalar dan aneka sayuran lainnya tampak terpajang di tenda berwarna hijau. Di kanan, dua jeriken minyak tanah dan tiga tabung elpiji ukuran lima kilogram juga ikut dipasang.
’’Selamat datang bagi para pemilih yang sudah hadir, silakan daftar terlebih dahulu dan mengambil kertas suaranya, ingat suara kita menentukan masa depan bangsa lima tahun mendatang,’’ ujar Ketua KPPS setempat, Ahmad Syafi’i menyerukan kepada warga.
Mendengar instruksi dari Ketua KPPS, warga pun langsung mengambil surat suara dan menuju empat bilik masing-masing berukuran 1x1 meter. Proses pencontrengan ini tidak sampai memakan waktu lebih dari lima menit.
Ada yang mengatakan,’’Wah, seperti suasana kampung ya, apalagi banyak kerupuk, mungkin setelah memilih kerupuknya akan dibagikan. Jadi ingat
suasana pedesaan,’’ celetuk salah satu calon pemilih. Mendengar itu, para
petugas pun membalas dengan senyum ramah.
Sebagian warga mengungkapkan, mereka sangat senang dengan ide kreatif seperti ini. ’’Dengan menggunakan tema seperti ini, akan menjadikan pemilih semakin semangat ke TPS, sehingga angka golput berkurang,’’ ujar Rianto, salah seorang warga yang ikut memilih.
Memang, untuk mendekorasi TPS, butuh waktu seharian. Semua dikerjakan secara gotong-royong oleh warga setempat. Ada yang membantu pagi, siang atau malam. Dengan antusias, warga bekerja nyaris tanpa perintah. Ide dan gagasan pun mengalir begitu saja, dengan asas musyawarah untuk mufakat. ’’Saya hanya mengoordinasi usul teman-teman,’’ kata Achmad Syafi’i, ketua KPPS.
Selain ide dan gagasan, warga juga turut membantu untuk masalah pembiayaan. ’’Mereka sukarela membantu semata-mata ingin menyukseskan Pilpres,’’ ujarnya. Sejak awal, KPPS memang melibatkan warga dalam melakukan desain TPS yang akan mereka gunakan.
Pemilihan itu pun ada dasar filosofinya. Dipasang berbagai aneka sembako dengan alasan apakah pemerintah mampu mengendalikan harga sembako. ’’Presiden yang terpilih nanti apa juga harus bisa membuktikan apakah mampu membuat nelayan mencari ikan dengan mudah, pendidikan gratis, petani makmur sehingga seluruh masyarakat sejahtera. Itu pesan yang ingin kami sampaikan,’’ ujar Syafi’i.
Digunakan tiga elpiji serta dua jeriken yang dipinjam dari warga sekitar menurutnya adalah harapan warga agar program pemerintah yang melakukan konversi tidak membuat warga kesulitan.
Disebutkan Syafi’i, saat ini di TPS 6 ada 603 pemilih. ’’Alhamdulillah semuanya melakukan hak pilihnya di TPS ini, berarti semua peduli dengan masa depan bangsa,’’ ujarnya.
Tidak itu saja, setiap perhelatan demokrasi lima tahun, TPS 6 lalu menjadi jujugan para wartawan. Baik media cetak maupun elektronik. Hal ini dikarenakan, setiap pemilihan baik pemilihan wali kota, pemilihan Gubernur, pemilihan legislatif hingga pilpres, di TPS ini selalu mendesain agar berbeda dengan TPS lainnya.
Tema yang mereka angkat pun berbeda-beda. Pada pemilihan wali kota lalu misalnya, di TPS ini menggunakan tema Gus-Yuk, sedangkan untuk tema gubernur dipilih tema pertanian. ’’Untuk pemilihan legislatif lalu dipilih caleg stres karena pasti banyak caleg yang gagal,’’ ujar Hani, 22, salah seorang petugas KPPS.

Rabu, 26 Januari 2011

TRADISI RUWAT BUMI DI MOJOKERTO

Melihat Tradisi Ruwat Bumi Yang Tersisa di Desa Watesumpak, Trowulan





Selama Prosesi Ruwatan, Warga Dilarang ke Mana-Mana

Upacara ruwat bumi hingga kini masih dilestarikan sejumlah warga desa. Salah satunya adalah Dusun Jatisumber, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto yang sampai sekarang masih melestarikan tradisi ruwat bumi untuk mendapatkan kesejahteraan desa.

CukX__ Mojokerto


SUARA gamelan terdengar mendayu mengiringi kedatangan rombongan pembawa tumpeng, yang terlihat gagah dengan berseragam pakaian khas jawa. Di belakang tumpeng, ratusan warga dengan mengenakan pakaian khas berjalan beriringan sejauh kurang lebih lima kilometer.
Ada lebih dari lima belas kelompok yang ikut serta dalam barisan panjang ini. Setiap kelompok memiliki tema-tema sendiri alam menentukan kostum mereka. Tradisi di desa tersebut dilakukan dengan melibatkan sejumlah warga yang mewakili berbagai kalangan seperti petani, nelayan, pamong desa serta para pelajar.
Prosesi ritual ruwat bumi dilakukan dengan cara yang cukup unik. Yakni menggarak aneka hasil bumi dan ternak berkeliling desa. Arak-arakan dimulai dari dusun sebelah selatan hingga menuju dusun sebelah utara. Jalan yang dilalui adalah jalan-jalan utama agar warga bisa menyaksikan acara tahunan ini.
Ratusan warga yang mengikuti acara itu, tampak berjejer rapi seolah ingin menyambut rombongan yang baru mengarak tumpeng dengan keliling kampung tersebut.
Dimulai dari depan balai desa setempat sekitar 500 warga berjalan di sepanjang desa sambil membawa hasil bumi dan hewan ternak yang tubuh dan hidup di desa tersebut.
Di bagian depan rombongan arak-arakan ditampilkan dua orang berpakaian Anoman dan seorang gadis dengan dandanan Dwi Sri beserta 5 orang pengawalnya.
Rombongan pertama adalah rombongan para petani. Uniknya, petani rombongan anggotanya adalah para perempuan usia remaja dengan mengenakan kebaya modis berwarna merah muda. Warga yang melihat juga semakin antusias dan beberapa diantaranya terlihat menggoda dengan meneriaki peserta rombongan. Tampilnya seorang gadis berpakaian petani tersebut sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran. Dimana warga berharap tidak ada kekeringan dan sawah mereka tetap bisa panen sepanjang tahun.
Ada pula rombongan delapan pemuda yang membawa liong-liong atau naga yang biasa digunakan sebagai tradisi etnis Tionghoa. Selain itu, rombongan pemuka agama juga ikut memeriahkan rombongan seperti rombongan biksu.
Ritual menggarak aneka hasil bumi dan ternak berakhir dengan pemotongan tumpeng oleh kepala desa yang diserahkan kepada sesepuh desa setempat. Usai dipotong sisa nasi tumpeng yang dipercaya akan mendatangkan berkah menjadi rebutan warga.
Sebelumnya, tetua dusun setempat bernama Suwandi sebelumnya memimpin doa untuk keselamatan dusun. Setelah diringi doa, tumpeng yang sudah dipotong langsung diserbu ratusan warga yang nampak tidak sabar mengambil makanan yang disediakan nampan berukuran besar.
Ratusan warga berbondong-bondong membawa makanan dan menyantap bersama di tepi jalan. Mereka menyakini ritual ini selain bisa mendatangkan berkah bagi warga, juga bisa menjauhkan dari bencana yang belakangan kerap terjadi. Warga berharap dengan memakan makanan sesaji ini, mereka bisa menjadi sejahtera karena makanan tersebut sudah diberi doa.
’’Ya percaya saja kalau bisa memakan makanan sesaji bisa terhindar dari bencana,’’ ungkap Sujito, warga sekitar.
Menurut Heri Bowo, kepala urusan pemerintahan Dusun Jatisumber, acara ritual ini memang sudah menjadi tradisi tahunan. ’’Menjelang bulan jawa yakni bulan ruwah memang selalu dilakukan acara ruwatan seperti nama bulannya. Kebetulan hari-harinya menjelang puasa,’’ terangnya.
Heri menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk bersih desa dan berharap untuk keselamatan desa agar tidak terjadi bencana. ’’Disamping itu juga untuk mengenang Mbah Sumberjati. Dia adalah sosok perempuan yang mendirikan desa ini,’’ ungkapnya.
Namun, ada yang istimewa dalam penyelenggaraan ruwat dusun atau desa. Yakni, warga dusun atau desa setempat yang sedang diruwat dilarang untuk keluar desa/dusun selama pelaksanaan ruwatan.
’’Kalau dulu aturan ini ketat, tapi karena sekarang banyak kesibukan banyak yang melanggar dan itu tidak apa-apa,’’ ujarnya. ’’Kalau dulu hanya PNS, TNI atau Polri yang boleh keluar dusun. Kalau yang wiraswasta ya tidak ke mana-mana. Tapi sekarang bisa dilanggar,’’ terangnya.

GULA MERAH ASAL DESA PENOMPO KEC. JETIS

Melihat Proses Pembuatan Gula Merah secara Tradisional di Desa Penompo, Kecamatan Jetis





Limbah Pabrik Dijadikan Pupuk, Sisa Tebu Dijadikan Bahan Bakar

Pembuatan gula merah yang dilakukan secara tradisional di Kabupaten Mojokerto nyaris tidak ada. Namun, bagi Mustofa, 75, usaha ini tetap dilakukan. Bahkan, usaha pembuatan gula merah dijadikan usaha keluarga.

CukX__Jetis


PANAS terik matahari tidak menyurutkan dua pegawai pabrik tebu yang terletak di Desa Penompo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto mengaduk enam tungku berdiameter satu meter. Keringat terus membasahi tubuh Suryanto.
Kedua tangannya begitu lihai menggerakkan sebuah kayu berukuran panjang satu meter. Dengan teliti, satu persatu dari enam wajan yang berada di dalam pabrik diaduk secara bergantian.
Panas yang dihasilkan tungku tidak menghalangi semangat Suryanto mengaduk gula merah setengah jadi ini. ’’Untuk menghasilkan gula merah yang memiliki kualitas bagus, pengadukan memang harus lama,’’ ujar pria yang sudah bekerja selama empat tahun ini.
Selama Suryanto mengaduk, Udin, teman kerjanya ikut membantu memasukkan sisa-sisa daun tebu yang kering kedalam tungku agar api pembakar terus menyala. Kedua matanya terus melihat ke dalam tungku untuk memastikan apakah api tetap membara atau mati.
Menurut salah satu putra Mustofa, pemilik pabrik gula merah bernama Muhammad Shoim, proses pembuatan gula merah ini paling tidak membutuhkan waktu antara satu hingga dua jam untuk setiap kali pembakaran.
’’Setelah pembakaran, terus diisi lagi dengan air tebu melalui selang. Selang ini terhubung dengan mesin penggiling tebu,’’ ujar pria berusia 28 tahun ini.
Gula merah buatan Shoim diproses secara sederhana. Tanaman tebu yang telah matang atau berumur sekitar 14 bulan dikepras dari akarnya dan dibersihkan dari daun-daun kering. Proses ini dilakukan di didepan pabriknya.
Tebu kemudian dibawa ke tempat pengolahan, lalu digiling menggunakan mesin untuk mengeluarkan air gulanya. Untuk menghasilkan kadar gula yang maksimal, Shoim terkadang memantau langsung proses pembuatan gulanya. Dengan dua mesin miliknya, tebu-tebu tersebut digiling selama beberapa jam.
Air tebu dengan kadar gula yang tinggi itu selanjutnya dimasak di tungku sampai air gula mengental dan berwarna coklat kemerah-merahan. Selama proses pemasakan di tungku, gula harus terus-menerus diaduk secara manual menggunakan tenaga manusia agar matang merata dan tidak gosong.
Untuk memasak gula, Shoim menggunakan bahan bakar daun tebu yang telah kering. Bahan bakar daun tebu tersebut dimasukkan secara periodik di dalam tungku berukuran 30 cm x 30 cm.
Setelah masak, gula merah dimasukkan ke dalam bak berukuran besar berukuran 100 cm x 60 cm. Setelah dingin gula merah diaduk kembali dan siap dikirim.
Tidak ada bahan campuran lain yang ditambahkan Shoim ke dalam gula merah produksinya. ’’Kami tidak memakai pewarna ataupun bahan pengawet karena itu sangat berbahaya bagi kesehatan. Justru dengan menjaga kemurnian kualitas gula, gula merah produksi kami bisa tahan selama setahun,’’ ujarnya.
Karena tidak memakai pewarna itu pula gula merah yang diproduksi Shoim tidak berwarna merah seperti gula merah yang dijual di pasar tradisional. Gula buatan Shoim justru berwarna cokelat kemerah-merahan.
Shoim mengatakan, pabrik yang dikelolanya bersama dua kakaknya ini sangat ramah lingkungan. Limbah pabrik berupa abu dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman untuk lahan tebu miliknya. ’’Sebagian lagi dijual kepada masyarakat sekitar dengan harga murah,’’ ujar anak ke sembilan dari sebelas bersaudara ini.
Shoim mengungkapkan, meski saat ini banyak usaha pembuatan gula merah dengan mesin-mesin lebih modern, namun dia tetap bertahan dengan cara tradisional. Menurutnya, hasil gula yang diproduksinya lebih memiliki kualitas. ’’Saat ini di kecamatan Jetis hanya ini saja usaha pembuatan gula merah. Kemungkinan juga di Kabupaten Mojokerto, karena seingat saya usaha seperti di Gondang sudah tutup,’’ terangnya.
Usaha yang dilakukannya ini sudah dijalani selama lima tahun. Bersama dua kakaknya yakni Nurul dan Nurhadi, Shoim berusaha mempertahankan usaha milik ayahnya ini. ’’Saat ini tidak ada kendala apapun dalam menjalankan usaha pembuatan gula merah. Bahan baku sudah ada ladang sendiri, kalau tidak cukup membeli dari masyarakat sekitar,’’ terangnya yang enggan menyebutkan jumlah produksinya. Hasil gula merah yang diproduksinya ini dijual dalam bentuk utuh tanpa dicetak ke Tulungagung

KRUPUK MEMBLE KHAS MOJOKERTO

Melihat Kerupuk ’’Memble’’ Khas Mojokerto yang Sempat Terpuruk

Dikerjakan Satu Keluarga, Menggeliat usai Vakum 10 Tahun


Usaha kerupuk ’’Memble’’ yang digarap pasangan suami istri Lamisan-Nasinah sempat berjaya pada tahun 1990-an. Bahkan dikenal khas Kabupaten Mojokerto. Namun diserang krisis, usahanya bangkrut. Nah, kini, berupaya bangkit lagi dari tidurnya.

CukX__ Mojokerto


RUMAH dengan tembok berwarna putih yang berada di Desa Penompo, Kecamatan Jetis siang kemarin terasa sepi. Tidak ada aktivitas terlihat dari luar rumah. Hanya sebuah papan bertuliskan nama usaha penjual kerupuk bertengger di depan.
Sebuah papan terbuat dari anyaman bambu terpasang didepan rumah sebagai alas menjemur ratusan kerupuk yang masih basah.
Di samping rumah, sebuah ruangan berukuran 6x6 meter terlihat aktivitas. Canda tawa anak-anak kecil terdengar dari luar rumah. Di depan pintu ruangan yang banyak tersimpan karung-karung tepung terigu itu, Iva dan dua saudaranya tampak tekun meletakkan bahan setengah jadi kerupuk yang baru direbus.
Sesekali bocah perempuan berusia delapan tahun ini bercanda dengan kakaknya, Saifun dan sepupunya Maarif. Ketiganya sangat terampil membentuk kerupuk-kerupuk yang masih basah tersebut dan meletakkannya diatas nampan terbuat dari bambu.
’’Ya begini ini aktivitas sehari-hari di rumah kami. Sehari-hari memang usaha ini dikerjakan oleh keluarga,’’ ujar Lamisan sambil mempersilakan masuk koran ini. Usaha yang dikerjakan satu keluarga ini memang diakui Lamisan sebagai usaha andalan mereka.
Sudah empat bulan ini bapak sembilan anak memulai usahanya sejak mengalami bangkrut 10 tahun lalu. ’’Dulu saya memulai usaha ini pada tahun 1989, awalnya memang tidak besar. Ya kecil-kecil dulu,’’ ungkapnya.
Lamisan tidak perlu belajar secara khusus untuk memproduksi kerupuk dengan rasa gurih ini. Pria berperawakan kurus ini mengaku belajar secara otodidak melalui teman-temannya.
’’Di tempat saya tidak ada yang memproduksi kerupuk. Kebanyakan warga sini bekerja sebagai buruh pabrik, petani dan pedagang,’’ ungkapnya.
Keberaniannya memulai usaha membuat kerupuk ini langsung didukung oleh istrinya. Keduanya bahu-membahu belajar membuat kerupuk yang berbeda dari kerupuk yang dijual selama ini.
Setelah melalui proses panjang dan berbagai percobaan, akhirnya pasangan suami istri ini ’’menciptakan’’ kerupuk baru dengan rasa yang lebih gurih. Bak putaran roda, setelah sepuluh tahun memulai usahanya, Lamisan mengalami kegagalan.
Harga bahan yang mahal serta krisis keuangan yang terjadi pada tahun 1999 memaksa usahanya gulung tikar. Beberapa karyawan yang sudah lama mengabdi pun mulai meninggalkan dia untuk mencari pekerjaan baru.
Namun setelah sepuluh tahun mengalami vakum, pasangan ini mulai memiliki keberanian memulai usahanya seperti dulu. Berbekal modal seadanya serta ruangan sebelah rumah yang sebelumnya tidak terpakai, Lamisan mulai membangun kebangkitan usahanya seperti dulu kala.
Beruntung seluruh keluarganya mendukung. Tidak hanya dukungan moril, anak-anaknya pun turut membantu tenaga. Secara bergantian, keluarga besarnya ikut membantu membuat kerupuk yang dinamakan kerupuk ’’memble’’ ini.
Lamisan sendiri tidak tahu kenapa kerupuk yang dibuatnya dinamakan kerupuk ’’memble’’.
’’Awalnya pembeli yang menanyakan apa ada kerupuk memble, ternyata itu kerupuk saya. Jadi yang memberi nama itu pembeli bukan saya,’’ ungkapnya. Selain itu, para pembeli pernah memberitahu kalau kerupuknya seperti lidah yang menjulur. ’’Makanya diberi nama memble,’’ ungkapnya.
Kerupuk yang diproduksinya ini memang tidak beda dengan kerupuk lain jika dilihat secara sekilas. ’’Tapi rasanya lebih gurih dan tidak keras,’’ ujarnya. Dengan menggunakan bahan-bahan seperti tepung terigu dan tepung kanji serta ditambah bumbu-bumbu seperti bawang putih, Lamisan mampu mengolah menjadi kerupuk dengan rasa khas.
’’Ada teknik sendiri saat menggoreng. Kalau orang lain pasti hasilnya keras terutama dibagian tengah kerupuk karena tidak punya tekniknya,’’ ungkapnya.
Selain karena kegigihannya, Lamisan juga ikut LSM yang bergerak dibidang usaha kecil. Berkat bantuan LSM Kumbo Karno yang diikutinya, Lamisan mendapat pelatihan dan mengetahui bagaimana mengembangkan bisnis kerupuknya.
Meski baru empat bulan menjalankan usahanya, pemasaran yang dilakukan Lasiman dibilang cukup maju. Kerupuk yang diproduksinya mampu mencapai Kabupaten Sidoarjo, Pasuruan dan seluruh Kabupaten dan Kota Mojokerto. ’’Biasanya ada sales yang datang kesini ambil kerupuk, tapi sebagian saya pasarkan sendiri. Kebanyakan di pasar-pasar,’’ ungkapnya.
Meski demikian, usaha yang digelutinya ini tidak lepas dari berbagai kendala. Saat ini, kendala utama yang dihadapinya adalah modal. Lamisan sendiri mengaku ingin usahanya menjadi besar.
Namun karena kurang modal, usahanya kini hanya terkesan jalan ditempat. ’’Keuntungannya masih belum banyak,’’ ungkap Nasinah, menimpali suaminya. Dia berharap. Pemerintah bersedia memberikan pinjaman lunak kepada usaha-usaha kecil seperti dirinya. ’’Kalau bisa tidak ada bunganya,’’ ungkap Nasinah.

PUSAT PAKAIAN MURAH Jl. JOKO SAMBANG MOJOKERTO

Suka Duka PKL Joko Sambang Raup Rezeki





Banyak Pencuri Berkeliaran, Tetap Laris karena Ikuti Mode

Lebaran adalah saat-saat para pedagang PKL di kawasan Joko Sambang kebanjiran rezeki. Betapa tidak, setiap harinya, banyak warga datang ke kawasan wisata niaga ini untuk berburu pakaian murah.

CukX__ Mojokerto



HIRUK-PIKUK lalu lintas di jalanan selebar empat meter sangat terasa di saat hari menjelang sore. Lalu-lalang sepeda motor dan sepeda adalah pemandangan biasa di kawasan ini. Pengendara motor yang melintas di kawasan ini memang dituntut memiliki kesabaran yang tinggi.
Maklum saja, kawasan ini memang sengaja diperuntukkan bagi mereka yang ingin melihat-lihat barang murah.
Namun, sesekali terdengar suara klakson sepeda motor bagi pengendara yang salah pilih jalan. Di sepanjang jalan, suara pedagang menawarkan pakaiannya sangat terdengar jelas. Suara khas pedagang kaki lima yang mencoba mendapatkan peruntungan bagi pengunjung yang melintas.
Langit semakin sore menjelang kaum muslimin berbuka puasa. Perlahan, sepanjang jalan Joko Sambang mulai menampakkan denyut ekonomi. Di pusat PKL pakaian kelas menengah ke bawah itu mulai dikerubungi pembeli yang rata-rata mengendarai roda dua. Sisa lebar jalan yang tinggal sekitar 4 meter itu mulai menyempit lantaran banyaknya kendaraanyang lalu-lalang.
Semakin malam, jalan itu semakin sempit saja. Karena tak hanya melintas, ratusan roda dua ini malah berhenti di depan ratusan kios pakaian yang menjual beragam jenis dan harga itu. Satu per satu kios para pedagang dengan gemerlap lampu ini mulai dipenuhi pembeli, yang rata-rata kalangan muda.
Bagi kalangan muda, kawasan Joko Sambang memang akrab. Di tempat inilah mereka bisa melampiaskan hasrat ’’bergaya’’ dengan tanpa merogok kocek dalam-dalam. Betapa tidak, dengan hanya uang sebesar Rp 15 ribu saja, mereka sudah bisa mendapatkan sebuah kaos yang beraneka desain.
Tak hanya kaos, sejumlah celana jins merek lokalan juga banyak dijual di sini. Beberapa kios juga menjual celana bermerek namun dengan harga bersahabat. Entah karena barang yang dijual itu adalah produk gagal, atau produk ’’sulapan”. Yang jelas, di lokasi ini bisa memenuhi semua kebutuhan fashion kalangan muda.
Banyaknya pengunjung menjelang Lebaran seperti ini, tentu menjadi berkah bagi ratusan pedagang. Omzet mereka bisa naik hingga tiga kali lipat dari hari-hari biasa. ’’Kalau pengunjung paling ramai sekitar pukul 4 sore sampai magrib, pasti banyak anak muda yang datang membeli baju Lebaran,’’ ujar Sulistiono, salah satu pedagang kaos khas anak muda.
Namun dalam kondisi ini, para pedagang juga merasa waswas. Ada bahaya yang mengancam berkurangnya laba mereka dari berjualan pakaian itu. ’’Banyak yang laku, tapi banyak juga pakaian yang hilang,’’ celetuk Sulistiono, pedagang asal Kecamatan Dlanggu.
Dia menjelaskan, pada puncak membeludaknya pembeli, mulai magrib hingga pukul 21.00, pengawasan di kiosnya mulai melemah. Itu lantaran banyaknya pembeli yang mengunjungi kiosnya.
Kondisi inilah yang membuka lebar kesempatan bagi pencuri pakaian. ’’Yang menjaga kios hanya saya dengan adik saya. Sementara pembelinya memenuhi kios yang sempit ini,’’ tukasnya.
Sejauh ini, dia memang tak pernah menangkap tangan para pencuri pakaian itu. Hilangnya sejumlah stok barang ini, diketahui saat ia menghitung jumlah uang yang didapat. Setiap hari, ia harus kebingungan mencocokkan jumlah uang dan pakaian yang laku.
’’Pasti ada saja satu atau dua pakaian yang hilang setiap harinya. Ini juga dialami teman-teman saya yang lainnya,’’ ujarnya.
Ia sendiri mengaku tak bisa berbuat banyak, mengingat kesibukannya melayani pembeli yang membeludak. ’’Kami tak punya satpam yang bisa mengawasi. Pengawasannya memang lemah,” tukas pedagang yang sudah puluhan tahun berbisnis pakaian kelas menengah ke bawah ini.
Kondisi yang sama juga diungkapkan Darmawan pedagang lainnya. Ia pernah sempat menghitung berapa potong pakaian yang raib tanpa rupiah. ’’Pernah sampai sepuluh potong kaos dan celana. Kami sendiri juga tak tahu kelompok mana yang jahil itu,” kata Darmawan.
Darmawan dan pengunjung lainnya hanya berharap adanya kesigapan petugas yang membantu mereka. ’’Dulu sempat ada pencuri yang tertangkap. Tapi kami lepaskan karena kasihan. Pencuri itu juga karena tidak memiliki uang,’’ terangnya.
Namun, pencuri yang belakangan mencuri di kawasan Joko sambaing ini menurutnya dilakukan secara berkelompok. ’’Pasti ada yang mengkoordinir. Tidak mungkin kalau beraksi sendirian,’’ ungkapnya.
Meski demikian, para pedagang tidak sampai rugi banyak jika melihat banyaknya pengunjung di kawasan Joko Sambang. Salah seorang pengunjung, Fitriana, 19, mengatakan, dia memang sengaja datang kekawasan Joko Sambang untuk mencari baju lebaran nanti. ’’Harga di sini bisa ditawar setengah harga dari yang ditawarkan penjual. Kualitas dan modelnya juga baru-baru,’’ ujarnya yang ditemani teman prianya.
Basuki, pengunjung lainnya mengatakan, mode pakaian yang ditawarkan di sini juga tidak ketinggalan. ’’Kebetulan saya mencari jaket seperti vokalis ST 12. Di sini banyak yang jual,’’ ujar pemuda berusia 18 tahun ini malu-malu.

WARGA KREATIF DARI DUSUN KADEMANGAN DESA DLANGGU

Saat Warga Kademangan Atasi Beban Sampah dengan Alat Rakitan Sendiri








Tiga Tahun Api Tak Padam Musnahkan Sampah, Abunya untuk Pupuk

Masalah sampah mungkin merupakan masalah yang sangat kompleks bagi sebagian warga khususnya warga kota. Namun bagi warga Dusun Kademangan, Desa/Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, sampah tidak lagi menjadi beban. Dua warganya ciptakan alat pembakar sampah tanpa bahan bakar yang berhasil atasi problem sampah.

CukX__ Mojokerto


BAU sampah sangat terasa di pinggir lapangan Dusun Kademangan, Desa/Kecamatan Dlanggu pagi kemarin. Maklim saja, di pinggir lapangan yang selalu dijadikan tempat berolahraga warga setempat ini dijadikan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah milik warga.
Namun tidak seperti kebanyakan TPA yang terdapat penumpukan sampah, di TPA dusun ini hanya sedikit sampah yang menumpuk. Padahal, jika dilihat dari sumber sampah yang masuk ke TPA ini, sampah tidak hanya berasal dari warga sekitar, melainkan dari pasar yang berjarak satu kilometer.
Lalu kemana sampah-sampah yang menumpuk itu? Jawabannya ternyata berada di sebuah alat sederhana yang diciptakan dua warga sekitar. Alat ini memiliki fungsi membakar segala macam sampah, baik sampah basah ataupun sampah yang berukuran besar. Hebatnya lagi, saat membakar, alat ini tidak memerlukan bahan bakar apa pun.
Adalah Kurdi, 50, dan Saliku, 52, pembuat alat pembakar sampah yang didesainnya secara sederhana namun memiliki manfaat luar biasa.
Dikatakan keduanya, alat yang diciptakan mereka hanyalah menggunakan sistem udara, sehingga api tidak mati dan dapat membakar tumpukan sampah. Alat tersebut hanya terbuat dari besi cor setinggi 120 cm. Bagian bawah di-las sedemikian rupa hingga membentuk segitiga dengan lima garis besi di tengahnya.
’’Dari sini udara nantinya keluar dan memompa api sehingga terus menyala,’’ terang Saliku sambil menunjuk jarinya ke arah bawah.
Sekitar lima sentimeter dari bagian dasar, terdapat delapan besi memanjang secara horizontal sepanjang lima sentimeter. Diatasnya lagi, delapan besi dengan ukuran lebih panjang yakni tujuh sentimeter. Alat ini diletakkan dalam sebuah bangunan seluas 100 cm persegi yang juga digunakan untuk menempatkan sampah-sampah yang nantinya akan dibakar.
’’Alat ini sudah digunakan sejak bulan Januari 2006 lalu, jadi sudah tiga tahun alat ini membakar tanpa henti,’’ ungkap Saliku. Dijelaskan pria yang juga bekerja di bagian telematika Polres Mojokerto ini, saat tahun 2006 lalu, awalnya ia memasukkan alat yang diciptakannya ke dalam bangunan pembakar sampah dan meletakkan sampah-sampah yang akan dibakar.
’’Sampah-sampah yang dibakar awalnya sedikit, lalu di bagian bawah alat ini saya bakar tanpa menggunakan bahan bakar, setelah api membara, sampah lainnya saya masukkan,’’ katanya.
’’Begitu sampah mulai habis, sampah-sampah kembali dimasukkan sehingga api terus menyala hingga tiga tahun lamanya,’’ sambut Kurdi. Sampah-sampah yang dibakar tadi akhirnya menjadi abu yang dapat diambil melalui lubang berukuran 60 cm x 20 cm untuk dibuang.
Tidak jarang sebagian warga memanfaatkan abu hasil pembakaran sampah untuk pupuk tanamannya. ’’Mereka percaya abu ini bisa digunakan untuk pupuk, saya juga tidak melarang mereka mengambil,’’ terang Saliku.
Hasil penemuan yang dilakukan Kurdi dan Saliku akhirnya direspons positif oleh masyarakat sekitar. Tanggapan serupa juga muncul dari pengurus dinas pasar setempat. Kini, sampah-sampah yang ada di pasar hampir seluruhnya dibakar di TPS ini.
Keduanya mengaku tidak mematok harga kepada siapa pun yang ingin menggunakan alat ini. Namun mereka hanya memerlukan dana untuk pemeliharaan saja. Keduanya juga mengaku mendapat uang pemeliharaan dan perawatan dari pengelola pasar sebesar Rp 250 ribu.
’’Ya cukup untuk biaya minum dan rokok,’’ terang Saliku. ’’Saya tidak memiliki maksud dan niat apa-apa saat menciptakan alat ini, semuanya hanya keinginan untuk mengatasi masalah sampah,’’ ujar Kurdi.
Dalam sehari, alat ini bisa membakar 3 sampai lima ton sampah yang berasal dari warga dan pasar. Selain dikelola oleh mereka berdua, pengelolaan sampah juga dibantu oleh Bambang Suharto, yang tak lain adalah adik ipar Saliku. ’’Bambang bertugas membawa sampah-sampah dari pasar untuk dibakar di sini,’’ kata Saliku.
Baik Saliku maupun Kurdi menceritakan awal penemuan alat ini. ’’Tiga tahun lalu saya melihat tayangan televisi yang membahas persoalan sampah, dari situ saya tercetus ide membuat alat yang bisa membakar sampah, akhirnya saya dan Pak Kurdi langsung membuat desain alatnya,’’ terang Saliku.
Hanya berbekal keyakinan dan sedikit modal, keduanya membuat alat yang diyakininya bisa mengatasi persoalan sampah. ’’Setelah beberapa lama, alatnya jadi dan langsung di-ujicoba-kan, hasilnya tidak mengecewakan,’’ ungkap Kurdi yang mengaku pernah bekerja sebagai pemborong.
Kini, keduanya telah membuat satu lagi alat sebagai pengganti alat lama. ’’Yang lama memang perlu diganti, sudah tiga tahun terbakar,’’ ungkapnya.
Bangunan yang digunakan untuk membakar sampah rencananya juga akan diperbaharui dengan menambah alat cerobong asap sehingga asap yang keluar tidak mengganggu warga lainnya.