POSTING

Kamis, 27 Januari 2011

CAMILAN DARI BELALANG

Melihat Usaha Pembuatan Camilan Belalang di Desa Gunungan Kecamatan Dawar Blandong







Memiliki Gizi Serta Dipercaya Meningkatkan Vitalitas Pria

Belalang kayu adalah hama yang merugikan. Tapi oleh warga Desa/Kecamatan Dawar Blandong, belalang bisa menjadi bahan lauk pauk dan camilan yang lezat. Dan yang pasti, menu belalang kayu halal dengan nilai protein yang tinggi

CukX__ Mojokerto.



Kedua kaki Antonius berjalan pelan-pelan diantara jalan-jalan setapak di arelah persawahan dekat rumahnya yang berada di Dusun Sidorame, Desa gunungan, Kecamatan Dawar Blandong. Dengan kepala yang tertunduk kebawah, kedua sorot matanya sangat jeli memperhatikan setiap helai daun padi yang mulai menguning.
Sesekali lampu sorot yang dipegang tangan kirinya didekatkan ke sawah-sawah untuk melihat apakah ada belalang diatasnya.
Setelah kedua matanya mengamati sawah-sawah, Antonius melihat seekor belalang dengan ukuran yang lumayan besar. Tangan kanannya pun dengan pelan mendekat dari arah belakang belalang tersebut. Hap.. dalam sekejap, tangan yang diayunkannya langsung memegang belalang. Belalang tadi lalu dimasukkan kedalam keranjang yang dipikulnya. ’’Butuh kejelian untuk bisa menangkap belalang ini, karena warna tubuhnya sama dengan warna daun selain itu gelapnya malam juga terkadang mempersulit pencarian,’’ tuturnya.
Sudah ada lima belas ekor belalang yang ditangpaknya malam itu. Namun Antonius terus melawan dinginnya malam untuk mencari belalang lebih banyak lagi.
Pencarian selama semalaman itu akhirnya mendapatkan banyak belalang di keranjangnya. Antonius pun pulang. Sesampainya di rumah, ia lalu menyaipak wajan di perapiannya. Sebagian bumbu-bumbu yang sudah diaduk oleh Sami, 37, istrinya langsung dimasukkan kedalam wajan. Proses pembuatan camilan belalang sangat sederhana dan menggunakan alat yang sangat tradisional. Belalang yang
berhasil ditangkap dihilangkan pada bagian sayap, dan memotong kakinya yang berduri. setelah itu di bersihkan bagian kotoran dalam tubuh
belalang hingga bersih. Lalu di cuci dengan air hingga bersih. Setelah semua proses pembersihan selesai, kemudian mulailah proses memasak belalang dilakukan.
untuk memasaknya berbagai bumbu masakan diperlukan
agar rasanya gurih dan lezat seperti cabe, bawang merah,bawang putih, kemiri dan sedikit bumbu penyedap. Proses masak melalui dua tahap, yakni tahap pertama
penggorengan tanpa bumbu hingga membutuhkan waktu lima hingga
sepuluh menit, sampai belalang mengeras dan kering. Sesudah belalang kering, kemudian digoreng dan dicampur dengan bumbu yang sudah disiapkan dengan pengapian yang
tidak terlalu besar agar tidak gosong. Proses ini membutuhkan waktu tiga hingga enam menit, setelah tercampur semua, diangkat dan siap di bungkus, dan dipasarkan.
Antonius mengakui, pekerjaan menjual belalang itu hanya sambilan. Karena, tidak setiap saat belalang bisa didapat. Biasanya, setiap tahun hanya ada satu musim. ’’Belalang itu keluar hanya sekali dalam setahun, ya seperti bulan kayak gini ini,’’ jelasnya.
Selain dibeli para tetangga, biasanya antonius menjualnya ke warung-warung dengan harga perbungkus delapan ratus rupiah. Camilan belalang selain dipasarkan di sekitarnya
juga beberapa kota di Jawa Timur seperti Gresik, Surabaya dan Mojokerto sendiri.
Ditanya hasil penjualan belalang, bapak dua anak itu mengakui tidak tentu. Semuanya tergantung dari hasil belalang yang dibawa. Bila belalang yang dijual banyak, hasilnya juga banyak. “Yang mencari belalang, saya . Kalau istri kebagian tugas menjual saja,” ujarnya.
Berapa harga belalang yang ditawarkan jika dijual hingga luar kota? Dengan malu-malu Sami mengungkapkan, setiap rentengnya dijual seharga Rp 10 ribu. Setiap reteng berisi 200 ekor belalang. ’’Setiap harinya, kita bisa dapat minimal Rp 50 ribu’’ ungkapnya.
Antonius menceritakan, ide awal pembuatan camilan belalang bermula saat antonius dan istrinya berjalan-jalan di sekitar desa mereka yang merupakan arela persawahan yang ditanami jagung dan padi. Tanpa sengaja bapak dua anak ini menangkapi belalang yang sedang banyak hinggap di padi dan jagung, lalu membawanya pulang dan memasaknya. Karena kelebihan, akhirnya ia menitipkan camilan belalang ke warung-warung tetangganya. Hasilnya warga sekitar desa banyak yang menyukianya. Antonius memulai usahanya sejak sepuluh tahun lalu tahun 1999 dengan modal awal pinjaman dari para tetangga sebesar lima puluh ribu rupiah

BUDIDAYA JAMUR

Melongok Budidaya Jamur Konsumsi di Gondang, Kabupaten Mojokerto






Manfaatkan Serbuk Gergajian untuk Media Pengembangan

Dewasa ini budidaya jamur konsumsi telah mendapatkan tempat tersendiri di kalangan petani Desa/Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto. Hasil budidaya jamur ini sangat menjanjikan dari segi ekonomis dan manfaatnya. Bagaimana cara pembibitan dan budidaya jamur tersebut?

CukX__ Mojokerto


LANGGAM dangdut dari sebuah radio tua mengiringi enam pekerja perempuan di sebuah gudang budidaya bibit jamur di Desa/Kecamatan Gondang. Keenam perempuan dengan mengenakan kaos dan penutup kepala tampak serius membungkus butiran-butiran jerami ke dalam plastik atau yang biasa disebut polybag. Para pekerja perempuan ini memang sedang serius membuat bibit jamur melalui media serbuk kayu.
’’Pekerja di sini seluruhnya ada dua puluh lima orang, delapan pria dan tujuh belas perempuan,’’ terang Sutris, pekerja asal Desa Padi, Kecamatan Gondang.
Menurut pria berusia 28 tahun ini, jamur adalah salah satu bahan makanan yang bergizi tinggi nonkolesterol. Dalam budidayanya, jamur merupakan tanaman yang ditanam dengan temperatur, kelembaban dan ventilasi yang terkontrol.
Pengembangan teknik budidaya ini dipermudah dengan menggunakan bibit sebar dengan media yang mudah dan murah. Alat press dan alat sterilisasi direkayasa sendiri sehingga mudah dilaksanakan dengan hasil yang baik.
Untuk bertani jamur konsumsi ini tidaklah
sulit, batangan kayu dihaluskan dan diambil serbuknya. Serbuk hasil gergajian tersebut harus direndam atau disiram dengan air terlebih dahulu selama 15 hari, untuk menghilangkan kandungan minyaknya.
Memang, tidak sembarangan kayu bisa dijadikan pembibitan sebuah jamur konsumsi. Melainkan harus bisa memilih kayu yang tidak banyak mengandung minyak, seperti kayu mauni dan sengon laut.
Setelah direndam selama 15 hari serbuk-serbuk halus tersebut dimasukkan dalam sebuah kantong plastik ukuran 1 kilogram. Serbuk tersebut dipadatkan dan diberi lubang tengahnya untuk pertumbuhan jamur. Lalu serbuk yang sudah dipadatkan tersebut ditutup dengan kapas dan dimasukkan dalam sebuah gudang oven dengan suhu tertentu selama 24 jam.
Dan selanjutnya akan dibagikan kepada para kelompok tani. Oleh para petani, bibit-bibit jamur akan ditempatkan pada sebuah tempat yang lembab dan tidak terkena sinar matahari secara langsung. Jamur itu sendiri akan mulai tumbuh di usia 40 hari.
Salah seorang petani jamur, Achmad Badrowi, 40, mengungkapkan, dari hasil pembibitan tersebut dapat diperoleh tiga jenis jamur seperti jamur lingsi/jamur kuping serta jamur hitam putih. Jamur ini selain dapat dijadikan sayuran dapat pula dijadikan obat-obatan serta tidak mengandung bahan kimia. Dia juga mengungkapkan, jamur memiliki banyak khasiatnya.
’’Biasanya orang mengonsumsi jamur bukan hanya lantaran rasanya yang lezat, tetapi juga karena alasan lain, yakni manfaat dan khasiat yang terkandung di dalamnya,’’ ungkapnya. Bisa disebut, faktor khasiat dan manfaat inilah yang menjadi prioritas konsumen jamur.
Tujuannya tentu saja demi kesehatan tubuh atau hal lain yang berkaitan dengan vitalitas. Tidaklah mengherankan jika berbagai jenis jamur kini menjadi bagian dari menu favorit di sejumlah rumah makan.
Dari hasil penelitian, jamur yang biasa dimakan rata-rata mengandung 14-35 persen protein. Dibandingkan dengan beras (7,38 persen) dan gandum (13,2 persen), jamur berkadar protein lebih tinggi.
Secara umum, jamur termasuk dalam jenis sayuran yang mengandung sedikit sekali protein dan hidrat arang, seperti halnya kangkung, ketimun, kool, kembang kool, tauge, sawi. ’’Karena kandungan kalorinya rendah, jamur boleh dimakan sekehendak atau bebas tanpa memperhitungkan banyaknya,’’ ungkap Widodo petani lainnya.
Menurutnya, jamur konsumsi, yang berkembang dibudidayakan hingga saat ini adalah jamur jenis tiram putih, coklat dan merah muda. Jamur ini, tumbuh di kayu yang mengalami pelapukan atau yang sudah mati, tumbuh pula di ilalang, sampah tebu dan sampah sagu.
Jamur tersebut tidak beracun dan boleh dimakan. Jamur yang tergolong beracun dan tidak dapat dikonsumsi, lanjutnya, jika jamur tiram misalnya, tumbuh di kayu yang masih hidup, tumbuh di bangkai, kotoran ayam atau binatang ternak.
’’Jika termakan, jamur jenis ini akan menyebabkan keracunan dan dalam konsentrasi racun tinggi dan bisa menyebabkan kematian,’’ ujarnya.
Ciri-ciri jamur beracun antara lain, umumnya tangkai payungnya bergelang atau terdapat lingkaran menyerupai cincin. Tapi, katanya, tidak semua yang bergelang merupakan jamur beracun. Selain itu, aroma jamur akan terasa berbau sangat tajam, jika dipotong terdapat cairan kekuning-kuningan dan berlendir. ’’Jika terdapat tanda-tanda tersebut, sebaiknya jamur ini jangan dikonsumsi,” katanya.
Sutikno, petani lainnya mengungkapkan, untuk saat ini kendala utama yang paling dirasakan oleh para petani jamur adalah kurangnya dana. Mereka berharap kepada pemerintah daerah setempat memberikan bantuan dana maupun penyuluhan, sehingga para petani bisa mengembangkan lebih baik lagi budidaya jamur konsums

KOMUNITAS GIRILAJA

MENGINTIP AKTIVITAS KOMUNITA GIRILAJA





Mengentas Pengamen Jalanan dan Tukang Kopi Jadi Musisi Kontemporer



Menjadi musisi yang kreatif, tak harus menjalani pendidikan khusus dari lembaga musik. Komunitas sederhana bernama Girilaja membuktikan jika mereka mampu menjadi seniman musik sungguhan




JARUM jam menunjukkan pukul 19.00. Sebuah warung kopi sederhana di Jalan Empunala, Gang Bhakti, Kecamatan Magersari Kota Mojokerto tampak mulai ramai. Beberapa orang terlihat sibuk menyiapkan sejumlah alat musik akustik di sebuah pekarangan kosong. Satu persatu, alat musik tertata apik di atas alas yang terbuat dari sisa papan reklame itu.

Wajah-wajah serius tapi santai yang terdiri dari beberapa pria muda, tua, setengah baya, dan seorang perempuan itu mulai menjalankan rutinitasnya setiap minggu. Masing-masing dari mereka memegang alat musik yang memang sudah menjadi teman latihannya. Sebuah syair lagu mulai dilantunkan dengan irama yang mampu membakar semangat.

Dua buah gitar, bass akustik, kendang, bongo, gamelan, cabassa, dan seperangkat gong itu menghasilkan jenis musik kontemporer yang tak lazim, namun sangat harmonis. Bait-bait lagu ciptaan mereka itu seakan lekat dengan hatinya. Suara koor yang keluar dari setiap mulut pemainnya menandakan jika para musisi ini bukan seniman biasa.

Selain kualitas musik yang dibawakan, gelar bukan ”seniman biasa” itu lantaran latarbelakang para pemainnya. Mulai dari pengamen, tukang parkir, pedagang pasar, hingga penjual kopi. Dari latarbelakang yang jauh dari nafas seniman itulah, mereka justru mampu menciptakan sebuah warna musik baru, namun tetap dalam bungkus musik kontempore. ”Dengan perangkat alat musik seperti ini memang sudah biasa. Tapi kami memiliki warna yang beda,” ungkap Erwan Affandiono, 47, salah satu anggota komunitas Girilaja yang juga sebagai pengarah musik.

Dia lantas membeber letak perbedaan musik garapannya dengan musik kontemporer lainnya. Perbedaan itu lebih mencolok dari cara memainkan gong. Lazimnya, gong merupakan alat musik dengan peran perkusi. Namun bagi Girilaja, gong itu bisa dimainkan secara utuh dan berfungsi sebagai ritem sekaligus melodis. ”Gong berjalan, itu istilah kami. Dengan gong yang selalu mengiringi perpindahan chord, menjadikan musik kami lebih indah,” kata pria 3 anak yang berprofesi menjadi penjual kopi ini.

Selain warna musik dan kualitas pemain yang bisa dibilang cukup andal, ada latarbelakang mulia dengan berdirinya komunitas Girilaja ini. Sejak berdiri tahun 1978 silam yang kini telah menelurkan generasi ke enam, komunitas ini ternyata memiliki misi khusus selain sekedar bermain musik. Di balik itu, komunitas ini mampu mengentas para pemainnya dari jeratan narkoba. Terbukti, beberapa pemain yang sebelumnya tak pernah ”sadar” itu, kini menjadi pemuda yang bersih dan kreatif.

”Dulu, mereka yang berlatarbelakang sebagai pengamen, saya tawari untuk bisa bermain musik dengan bersih. Dan itu terwujud. Kini mereka bebas dari narkoba dan justru mampu menciptakan karya-karya yang luar biasa,” ujarnya bangga, mengenang saat awal ia mendirikan komunitas ini dengan kondisi serba kekurangan peralatan. Mereka memiliki motto, ”Bermusik sampai mabuk dan bermusik tanpa mabuk”.

Akibat otak yang waras itu, kini mereka memiliki puluhan lagu hasil karya sendiri. Mereka berharap, lagu-lagu yang lebih banyak bernafas nasionalisme, sedikit kritik sosial dan cinta lingkungan itu mampu membawa perubahan ekonomi mereka. Impian itu muncul karena banyaknya kalangan yang berminat dengan lagu yang mereka buat. ”Kami ingin lebih dihargai, meski komunitas kami berasal dari kelompok pinggiran. Selain hidup bermusik, kami juga ingin mengentas ekonomi teman-teman dari lagu yang mereka buat,” harapnya.

Herman ”Doel” Effendi, Ketua komunitas Girilaja adalah sosok pemuda yang berada di garis depan nasib komunitas ini. Dengan berbagai kekurangan, ia mencoba terus menjaga eksistensi komunitas unik ini. Betapa tidak, komunitas ini bertahan dengan segala keterbatas, khususnya peralatan alat musik yang dimiliki. Seperangkat gamelan yang mereka tabuh itu, bukanlah milik sendiri. ”Itu pinjaman dari BP7. Sebelumnya, kami harus mondar-mandir pinjam alat saat latihan,” ungkap Herman.

Namun, keterbatasa moda itu justru menjadikan spirit baginya untuk membuktikan bahwa komunitas ini mampu terus berdiri dan berkarya. Tak hanya dari jalur musik, ia kerap memilih jalur lain untuk menjaga ekonomi komunitas itu. ”Kita juga membuat sejumlah souvenir yang itu bisa dijual dan untuk menghidupi komunitas ini. Kami akan tetap berkreasi meski dalam kondisi serba keterbatasan. Itu tekad kami,” pungkasnya

TRADISI MENUMBUK PADI DI DESA PENANGGUNGAN - TRAWAS

Berkunjung ke Dusun Penumbuk Padi di Penanggungan, Trawas





Pukulan Lesung Ciptakan Irama, Beras Diyakini Lebih Bergizi

Di zaman yang serba pragmatis dan modern ini ternyata masih ada juga kebiasaan masyarakat lama yang sulit ditinggalkan. Salah satunya adalah kebiasaan menumbuk padi dengan cara dan alat tradisional yakni lesung.

CukX__ Trawas

SUASANA pedesaan sangat terasa saat melintas di jalan Kecamatan Trawas. Hawa dingin khas daerah pegunungan begitu terasa jika melintas di daerah setinggi 800 meter dari atas permukaan laut ini.
Di salah satu desa yang ada di Kecamatan Trawas, terdapat satu dusun yang masih memegang kebiasaan tradisional, yakni mengolah padi dengan cara menumbuk menggunakan alat tradisional lesung. Dusun tersebut bernama Dusun Penanggungan.
Untuk sampai di dusun ini tidak lah terlalu sulit. Hanya saja, jalanan sebagai akses masuk ke desa ini memang sedikit menanjak dan berliku. Dusun penanggungan sendiri sama dengan dusun-dusun yang ada di sekitarnya. Padat dengan bangunan rumah dan mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani.
Tidak ada yang istimewa saat kali pertama tiba di depan gerbang dusun. Namun beberapa meter dari gerbang, suara pelan seperti alunan musik mulai terdengar. Alunan musik tersebut berasal dari enam perempuan yang memukul alat penumpuk padi ke arah lesung. Pukulan tersebut dimainkan secara bergantian sehingga seolah-olah membentuk irama musik tradisional.
Dari balik sebuah bangunan yang terbuat dari bambu dengan ukuran 5x5 meter, enam perempuan tampak saling bersenda-gurau sambil memukulkan lesung. Tidak ada raut lelah dari wajah mereka. Sesekali tangan mereka mengusap dahi untuk menghilangkan keringat yang mulai menetes di wajah keenam perempuan tersebut.
Lesung itu sendiri terbuat dari batu besar dengan ukuran 120 sentimeter dan kedalaman sepuluh sentimeter. Di bangunan yang juga berfungsi sebagai lumbung padi ini, terdapat juga dua lesung berbentuk bundar dengan ukuran diameter sepuluh sentimeter. Keenam perempuan tadi memukul padi menggunakan kayu sepanjang 150 senti meter.
’’Kalau dilakukan secara bersama-sama, tidak terasa lelah, apalagi sambil mengobrol, tahu-tahu sudah selesai,’’ ujar Siti Kalimah, 42. bersama lima perempuan lainnya, Siti Kalimah memulai pekerjaanya menumbuk beras mulai pukul 00.00 hingga pukul 16.00.
’’Kalau lelah ya isirahat sebentar, biasanya kalau tengah hari, istirahat sebentar sambil makan siang,’’ ujarnya. Perharinya, menurut Siti Kalimah, ia dan kelima rekannya bisa menumbuk beras hingga dua kuintal.
’’Rata-rata per hari saya bisa mendapatkan upah mencapai Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu, lumayan untuk tambah-tambahan,’’ terang Tiamin, warga lainnya. Dari lesung yang terbuat dari batu besar, para wanita tadi mengambil beras yang telah ditumbuk, lalu diayak untuk selanjutnya dibawa ke rumah.
Para wanita desa mengaku lebih senang membuat beras sendiri. Alasannya, beras yang dijual di pasar lebih kasar karena diproses dengan mesin dan ayakannya tidak sempurna. Aktivitas menumbuk beras ini memang sudah lama dilakukan. Disamping itu, proses menumbuk beras juga diyakini lebih memiliki nilai gizi dibandingkan menggunakan mesin.
Pada zaman dulu, juga saat ini di beberapa daerah pedesaan, masyarakat mengonsumsi nasi dari beras yang ditumbuk secara tradisional dengan menggunakan penumbuk padi berupa lesung, dimana cara ini membuat masih banyak bekatul menempel pada beras yang dihasilkan.
Bekatul atau juga disebut rice brand, yang selama ini lebih dikenal sebagai pakan ternak, adalah bagian luar atau kulit ari dari beras yang merupakan hasil sampingan dari proses penggilingan padi, biasa berupa serbuk halus berwarna krem atau coklat muda.
Beras yang kita makan sekarang ini sudah ’’terlalu bersih” padahal di dalamnya justru banyak mengandung vitamin dan nutrisi penting yang memiliki khasiat luar biasa
Seiring dengan perkembangan teknologi, dengan munculnya hueller atau penggilingan, sedikit demi sedikit kebiasaan menumbuk pada ditinggalkan. Mereka menggilingkan padi atau gabahnya ke tempat penggilingan karena proses pembersihan lebih cepat dan murah.
Semenjak mesin penggilingan menggantikan alu dan lesung penumbuk padi, bisa dipastikan tidak ada sama sekali bekatul yang tersisa atau menempel pada beras yang dihasilkan. Sehingga masyarakat pedesaan sama seperti masyarakat di perkotaan dimana mereka mengonsumsi beras yang putih bersih dan bebas dari bekatul.
Slamet, salah satu tokoh masyarakat mengatakan di dalam beras yang dihasilkan melalui proses penumbukan terdapat nutrisi-nutrisi yang tetap terjaga dan hal ini bisa hilang jika dihasilkan melalui proses mesin giling atau huller. Nutris-nutris yang dimaksud adalah aleuron dan thiamin atau B1. ’’Serat, lemak, vitamin dan mineral alami tersebut merupakan asupan yang gizi yang penting bagi tubuh,’’ ujar Slamet.
Kondisi fisik masyarakat pedesaan zaman dahulu dan sekarang tampak jauh berbeda. Ia mencontohkan, jaman dahulu orang desa segar bugar, tahan banting dan jarang terkena penyakit. Kini banyak dari mereka menderita penyakit masyarakat kota, yakni penyakit degeneratif seperti diabetes, melitius, kolesterol, hipertensi, serangan jantung dan banyak lagi. ’’Apakah ini disebabkan karena mereka tidak lagi mengonsumsi bekatul yang seharusnya menempel pada beras sebagai sumber vitamin B15?’’ ujarnya.
Disamping itu, dengan kegiatan menumbuk, maka dapat menumbuhkan lapangan pekerjaan dan memperkuat nilai-nilai sosial budaya masyarakat lokal yang ada.

PERUM JASA TIRTA MOJOKERTO

Melongok Pengaturan Debit Air Sungai Brantas di Musim Penghujan








Setiap Jam Periksa Debit Air, 24 Jam Selalu Siaga

Hujan deras yang turun beberapa hari belakangan ini memang membuat pihak Jasa Tirta I bekerja lebih ekstra mengatur air di Sungai Brantas. Seperti apakah kerja serta peran Jasa Tirta I. Bagaimanakah cara kerja Jasa Tirta I mengatur arus air di Sungai Brantas agar tidak terjadi banjir di Mojokerto?


CukX__ Mojokerto


RUANGAN lantai dua kantor Perum Jasa Tirta I yang berada di Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, Kecamatan Mojokerto terasa sepi. Di ruangan berukuran 8x10 meter ini, hanya ada dua penjaga yang selalu mengawasi Sungai Brantas.
Jika dilihat dari ruangan ini, pintu air sungai brantas yang menjadi salah satu objek vital di Mojokerto terlihat jelas. Maklum saja, di ruangan ini memang berfungsi sebagai pemantau dan ruang kontrol pintu arus air Sungai Brantas.
Dua petugas masing-masing bernama Susilo dan Soleh terlihat sangat serius mengamati alat panel kontrol yang berada di sebelah kiri pintu masuk ruan kontrol. Alat berukuran 5x3 meter ini merupakan alat utama yang berfungsi untuk pengaturan arus air, buka tutup pintu air dan mengetahui kletinggian elevasi maupun debit air.
’’Debit air sungai saat ini normal, sekitar 470 kubik per detik, angka ini merupakan angka yang menunjukkan kalau debit air normal, berbeda dengan tiga hari lalu,’’ ujar Susilo yang ditemui sekitar pukul 14.00. Susilo memang bisa sedikit bernafas lega jika dibandingkan dengan tiga hari lalu yakni pada tanggal 2 Februari 2009. saat itu, Debit air menunjukkan angka 1072 kubik per detik. Angka yang menjadikan status Sungai Brantas menjadi siaga merah atau siaga banjir. ’’Tapi setelah itu angka terus menurun dan sudah tidak lagi menjadi status siaga,’’ tambah Susilo.
Peranan Jasa Tirta memang bisa dibilang vital dalam pengaturan air sungai. Maklum saja, air sungai banyak dibutuhkan oleh seluruh masyarakat. Baik itu untuk industri, irigasi, PDAM, PLTA dan pemeliharaan lingkungan. Bahkan, hampir 80 persen pengairan Sungai Brantas digunakan untuk sistem irigasi oleh petani.
Kepala Sub Divisi Air dan Sumber Air Perum Jasa Tirta I, Zainal Alim mengungkapkan, air sungai perlu dilakukan pengaturan agar bisa menguntungkan semua pihak. ’’Air perlu dikelola secara bijak, harus diperhatikan baik kualitas maupun kuantitasnya, kalau air terlalu banyak bisa merugikan dan kalau air sedikit juga sangat merugikan,’’ ujar Zainal.
Baik musim hujan maupun kemarau, Jasa Tirta memang selalu selalu bekerja ekstra keras. Zainal Alim mengatakan, ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam pengaturan air, yakni suplai atau ketersediaan air atau kebutuhan air.
Jika musim kemarau, Jasa Tirta harus pintar-pintar melakukan pengaturan air agar bisa dimanfaatkan oleh semua pihak. Ia mencontohkan, jika musim kemarau, air bisa sangat berkurang. ’’Meski kemarau, air tetap dibutuhkan oleh masyarakat, untuk itu dibutuhkan manajemen pengaturan air agar kebutuhan air bisa tercukupi,’’ ungkapnya.
Untuk itu, ia selalu berusaha melakukan koordinasi dengan berbagai instansi dengan melakukan rapat pengaturan tata pengaturan air. ’’Tujuannya agar masyarakat pengguna air bisa paham berapa air yang tersedia dan berapa kebutuhan yang harus dicukupi,’’ katanya.
Sama halnya dengan musim kemarau, disaat musim hujan, limpahan air di Sungai Brantas pun harus diatur sedemikian rupa agar tidak terjadi luapan dan banjir. Pengaturan tersebut dilakukan dengan membuka tutup pintu air yang ada di beberapa tempat. Yakni di pintu air Sungai Brantas Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, pintu air Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto dan beberapa pintu air lainnya.
Dengan adanya pola alokasi air atau manajemen pengaturan arus Sungai Brantas, warga Mojokerto tidak perlu merasa resah terjadinya banjir yang diakibatkan hulu sungai. ’’Semua sudah diatur setiap saat dengan mengalihkan arus sungai di pintu air Desa Mlirip,’’ katanya.
Pihak Jasa Tirta juga selalu melakukan pemeriksaan ketinggian debit air setiap jamnya. ’’Debit air perlu dilakukan pengecekan agar bisa diketahui apa status sungai, sehingga dengan diketahui statusnya, ada antisipasi dini terjadinya sesuatu,’’ ungkap Zainal. Untuk menegtahui jumlah debit air, ada alat di ruangan panel kontrol yang langsung mencatat ketinggian air.
Di alat ini, terdapat tiga lampu yakni merah, kuning dan hijau yang menunjukkan status sungai. ’’Kalau statusnya merah, lampu merah akan menyala, begitu juga seterusnya,’’ ungkapnya.
Dijelaskannya, ada tiga kriteria penetapan status siaga di Sungai Brantas. Yakni siaga hijau jika ketinggian debit air mencapai 750 meter kubik per detik, siaga kuning jika ketinggian debit air mencapai 850 meter kubik per detik dan siaga merah jika debit air lebih dari 950 meter kubik per detik.
Alat tersebut juga terdapat tombol pembuka dan menutup air. Secara total, dipintu air Brantas terdapat delapan pintu yang berfungsi untuk mengatur arus air. ’’Makanya pintu air ini bisa dibilang alat vital, karena disinilah kunci yang bisa mencegah Kota Mojokerto dan sekitarnya dari banjir, kalau musim hujan tidak dibuka, maka banjir besar pasti datang,’’ katanya.
Dalam melakukan sistem pengaturan air, pihak Jasa Tirta sendiri juga dibantu masyarakat dengan menerapkan sistem early warning system yakni sistem peringatan dini berbasis masyarakat.
Yakni dengan meletakkan alat yang bisa memantau status perairan sungai. Alat tersbeut dipasang di beberapa anak Sungai Brantas yakni Sungai Sadar, Sungai Marmoyo,Sungai Kambing,Sungai Brangkal dan Sungai Porong. ’’Di sungai Porong ada tujh unit alat karena ditempat ini merupakan tempat pembuangan banjir,’’ katanya.
Alat-alat ini dirawat sendiri oleh masyarakat sekitar. Sehingga sistem ini memang berbasis masyarakat. ’’Masyarakat diberikan fasilitas seperti ponsel dan pulsa agar bisa memberikan informasi secepatnya kepada kita, setelah itu akan dilakukan koordinasi dan petugas juga akan mendatangi lokasi jika ada sesuatu,’’ kata Zainal Alim

TPS UNIK DI MOJOKERTO

Kiat Rangsang Warga Nyontreng dengan TPS Unik







Dana Urunan, Tiap Pemilihan Selalu Berbeda Tema

Banyak cara untuk mengajak warga menggunakan hak pilihnya pada Pilpres 2009 kali ini. Salah satunya mendesain tempat pemungutan suara (TPS) semenarik mungkin. Seperti yang dilakukan warga Lingkungan Kedung Kwali, Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon.

CukX__ Mojokerto


JAM sudah menunjukkan pukul 07.00. Udara pagi itu cukup
terasa dan terlihat mendukung momentum besar Pilpres 2009. Beberapa warga di Lingkungan Kedungkwali Gang IX Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto tampak berjalan kaki menuju lokasi TPS 6. Tetapi ada juga diantara mereka yang menggunakan motor.
Tidak sulit menemukan lokasi TPS itu. Hanya butuh waktu dengan berjalan kaki sekira 5 menit dari depan gang. Begitu memasuki Lingkungan Kedungkwali Gang IX Kelurahan Miji, pandangan mata akan tertuju pada TPS 6, di pekarangan warga setempat.
Betapa tidak, TPS dihias dengan unik. Berbagai sayuran dan kerupuk ada di sana. Sebuah tenda tampak berdiri kokoh dengan tanaman hias gantung
yang memanfaatkan media pot, yang terbuat dari botol plastik di sekitarnya.
Di bawah tenda, berjejer kerupuk berukuran besar yang digantung dengan menggunakan tali. Kerupuk-kerupuk dengan ukuran diameter sekitar 30 sentimeter tersebut terbungkus plastik transparan.
Di bagian tepi tenda, berbagai macam sayuran seperti terong, ubi jalar dan aneka sayuran lainnya tampak terpajang di tenda berwarna hijau. Di kanan, dua jeriken minyak tanah dan tiga tabung elpiji ukuran lima kilogram juga ikut dipasang.
’’Selamat datang bagi para pemilih yang sudah hadir, silakan daftar terlebih dahulu dan mengambil kertas suaranya, ingat suara kita menentukan masa depan bangsa lima tahun mendatang,’’ ujar Ketua KPPS setempat, Ahmad Syafi’i menyerukan kepada warga.
Mendengar instruksi dari Ketua KPPS, warga pun langsung mengambil surat suara dan menuju empat bilik masing-masing berukuran 1x1 meter. Proses pencontrengan ini tidak sampai memakan waktu lebih dari lima menit.
Ada yang mengatakan,’’Wah, seperti suasana kampung ya, apalagi banyak kerupuk, mungkin setelah memilih kerupuknya akan dibagikan. Jadi ingat
suasana pedesaan,’’ celetuk salah satu calon pemilih. Mendengar itu, para
petugas pun membalas dengan senyum ramah.
Sebagian warga mengungkapkan, mereka sangat senang dengan ide kreatif seperti ini. ’’Dengan menggunakan tema seperti ini, akan menjadikan pemilih semakin semangat ke TPS, sehingga angka golput berkurang,’’ ujar Rianto, salah seorang warga yang ikut memilih.
Memang, untuk mendekorasi TPS, butuh waktu seharian. Semua dikerjakan secara gotong-royong oleh warga setempat. Ada yang membantu pagi, siang atau malam. Dengan antusias, warga bekerja nyaris tanpa perintah. Ide dan gagasan pun mengalir begitu saja, dengan asas musyawarah untuk mufakat. ’’Saya hanya mengoordinasi usul teman-teman,’’ kata Achmad Syafi’i, ketua KPPS.
Selain ide dan gagasan, warga juga turut membantu untuk masalah pembiayaan. ’’Mereka sukarela membantu semata-mata ingin menyukseskan Pilpres,’’ ujarnya. Sejak awal, KPPS memang melibatkan warga dalam melakukan desain TPS yang akan mereka gunakan.
Pemilihan itu pun ada dasar filosofinya. Dipasang berbagai aneka sembako dengan alasan apakah pemerintah mampu mengendalikan harga sembako. ’’Presiden yang terpilih nanti apa juga harus bisa membuktikan apakah mampu membuat nelayan mencari ikan dengan mudah, pendidikan gratis, petani makmur sehingga seluruh masyarakat sejahtera. Itu pesan yang ingin kami sampaikan,’’ ujar Syafi’i.
Digunakan tiga elpiji serta dua jeriken yang dipinjam dari warga sekitar menurutnya adalah harapan warga agar program pemerintah yang melakukan konversi tidak membuat warga kesulitan.
Disebutkan Syafi’i, saat ini di TPS 6 ada 603 pemilih. ’’Alhamdulillah semuanya melakukan hak pilihnya di TPS ini, berarti semua peduli dengan masa depan bangsa,’’ ujarnya.
Tidak itu saja, setiap perhelatan demokrasi lima tahun, TPS 6 lalu menjadi jujugan para wartawan. Baik media cetak maupun elektronik. Hal ini dikarenakan, setiap pemilihan baik pemilihan wali kota, pemilihan Gubernur, pemilihan legislatif hingga pilpres, di TPS ini selalu mendesain agar berbeda dengan TPS lainnya.
Tema yang mereka angkat pun berbeda-beda. Pada pemilihan wali kota lalu misalnya, di TPS ini menggunakan tema Gus-Yuk, sedangkan untuk tema gubernur dipilih tema pertanian. ’’Untuk pemilihan legislatif lalu dipilih caleg stres karena pasti banyak caleg yang gagal,’’ ujar Hani, 22, salah seorang petugas KPPS.

Rabu, 26 Januari 2011

TRADISI RUWAT BUMI DI MOJOKERTO

Melihat Tradisi Ruwat Bumi Yang Tersisa di Desa Watesumpak, Trowulan





Selama Prosesi Ruwatan, Warga Dilarang ke Mana-Mana

Upacara ruwat bumi hingga kini masih dilestarikan sejumlah warga desa. Salah satunya adalah Dusun Jatisumber, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto yang sampai sekarang masih melestarikan tradisi ruwat bumi untuk mendapatkan kesejahteraan desa.

CukX__ Mojokerto


SUARA gamelan terdengar mendayu mengiringi kedatangan rombongan pembawa tumpeng, yang terlihat gagah dengan berseragam pakaian khas jawa. Di belakang tumpeng, ratusan warga dengan mengenakan pakaian khas berjalan beriringan sejauh kurang lebih lima kilometer.
Ada lebih dari lima belas kelompok yang ikut serta dalam barisan panjang ini. Setiap kelompok memiliki tema-tema sendiri alam menentukan kostum mereka. Tradisi di desa tersebut dilakukan dengan melibatkan sejumlah warga yang mewakili berbagai kalangan seperti petani, nelayan, pamong desa serta para pelajar.
Prosesi ritual ruwat bumi dilakukan dengan cara yang cukup unik. Yakni menggarak aneka hasil bumi dan ternak berkeliling desa. Arak-arakan dimulai dari dusun sebelah selatan hingga menuju dusun sebelah utara. Jalan yang dilalui adalah jalan-jalan utama agar warga bisa menyaksikan acara tahunan ini.
Ratusan warga yang mengikuti acara itu, tampak berjejer rapi seolah ingin menyambut rombongan yang baru mengarak tumpeng dengan keliling kampung tersebut.
Dimulai dari depan balai desa setempat sekitar 500 warga berjalan di sepanjang desa sambil membawa hasil bumi dan hewan ternak yang tubuh dan hidup di desa tersebut.
Di bagian depan rombongan arak-arakan ditampilkan dua orang berpakaian Anoman dan seorang gadis dengan dandanan Dwi Sri beserta 5 orang pengawalnya.
Rombongan pertama adalah rombongan para petani. Uniknya, petani rombongan anggotanya adalah para perempuan usia remaja dengan mengenakan kebaya modis berwarna merah muda. Warga yang melihat juga semakin antusias dan beberapa diantaranya terlihat menggoda dengan meneriaki peserta rombongan. Tampilnya seorang gadis berpakaian petani tersebut sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran. Dimana warga berharap tidak ada kekeringan dan sawah mereka tetap bisa panen sepanjang tahun.
Ada pula rombongan delapan pemuda yang membawa liong-liong atau naga yang biasa digunakan sebagai tradisi etnis Tionghoa. Selain itu, rombongan pemuka agama juga ikut memeriahkan rombongan seperti rombongan biksu.
Ritual menggarak aneka hasil bumi dan ternak berakhir dengan pemotongan tumpeng oleh kepala desa yang diserahkan kepada sesepuh desa setempat. Usai dipotong sisa nasi tumpeng yang dipercaya akan mendatangkan berkah menjadi rebutan warga.
Sebelumnya, tetua dusun setempat bernama Suwandi sebelumnya memimpin doa untuk keselamatan dusun. Setelah diringi doa, tumpeng yang sudah dipotong langsung diserbu ratusan warga yang nampak tidak sabar mengambil makanan yang disediakan nampan berukuran besar.
Ratusan warga berbondong-bondong membawa makanan dan menyantap bersama di tepi jalan. Mereka menyakini ritual ini selain bisa mendatangkan berkah bagi warga, juga bisa menjauhkan dari bencana yang belakangan kerap terjadi. Warga berharap dengan memakan makanan sesaji ini, mereka bisa menjadi sejahtera karena makanan tersebut sudah diberi doa.
’’Ya percaya saja kalau bisa memakan makanan sesaji bisa terhindar dari bencana,’’ ungkap Sujito, warga sekitar.
Menurut Heri Bowo, kepala urusan pemerintahan Dusun Jatisumber, acara ritual ini memang sudah menjadi tradisi tahunan. ’’Menjelang bulan jawa yakni bulan ruwah memang selalu dilakukan acara ruwatan seperti nama bulannya. Kebetulan hari-harinya menjelang puasa,’’ terangnya.
Heri menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk bersih desa dan berharap untuk keselamatan desa agar tidak terjadi bencana. ’’Disamping itu juga untuk mengenang Mbah Sumberjati. Dia adalah sosok perempuan yang mendirikan desa ini,’’ ungkapnya.
Namun, ada yang istimewa dalam penyelenggaraan ruwat dusun atau desa. Yakni, warga dusun atau desa setempat yang sedang diruwat dilarang untuk keluar desa/dusun selama pelaksanaan ruwatan.
’’Kalau dulu aturan ini ketat, tapi karena sekarang banyak kesibukan banyak yang melanggar dan itu tidak apa-apa,’’ ujarnya. ’’Kalau dulu hanya PNS, TNI atau Polri yang boleh keluar dusun. Kalau yang wiraswasta ya tidak ke mana-mana. Tapi sekarang bisa dilanggar,’’ terangnya.