POSTING

Rabu, 19 Januari 2011

CANDI GENTONG




CANDI GENTONG
Kategori Obyek : Wisata Wisata Sejarah, Wisata pendidikan
Alamat : Bejijong Trowulan
Candi Gentong terletak di Dusun Jambumente Desa Bejijong Kecamatan Trowulan, sekitar 1 km dari pusat kota kecamatan arah utara .

Bangunan Candi Gentong berupa kaki candi berdenah bujur sangkar berukuran 23.5 x 23.5 meter tinggi 2.45 m dengan pintu masuk menghadap ke barat. Pada saat penggalian banyak ditemukan artefak-artefak berupa pecahan keramik cina dari masa dinasti Yuan dan Ming, fragmen tembikar, mata uang cina, emas, stupika (benda berbentuk stupa) dan arca Budha. Dibangun pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk untuk upacara Sraddha memperingati Tribuana Wijaya Tunggadewi yang tidak lain adalah ibunda Hayam Wuruk. Maksud upacara ini adalah untuk memohon kesejahteraan pemerintahan.

Candi Gentong adalah bukti besarnya toleransi beragama pada masa itu, terbukti bahwa agama Hindu dan Budha dapat bersanding dan mendapatkan pengakuan dari pemerintah.





CANDI GENTING



CANDI GENTING
Kategori Obyek : Wisata Wisata Sejarah, -
Alamat : Kutogirang Ngoro
Terletak di Desa Kutogirang Kecamatan Ngoro, sekitar 30 km arah timur dari terminal Kertajaya Mojokerto. Belum banyak informasi yang diperoleh seputar asal usul dan fungsi candi ini, meski demikian BP3 Jatim telah menetapkan kawasan ini sebagai kawasan cagar budaya.

CANDI BRAHU



CANDI BRAHU
Kategori Obyek : Wisata Wisata Sejarah, Wisata pendidikan
Alamat : Bejijong Trowulan

Candi Brahu terletak di Desa Bejijong Kecamatan Trowulan, sekitar satu kilometer dari pusat kota Kecamatan arah utara
Candi Brahu terbuat dari bahan batu bata, menghadap ke arah barat. Denahya berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 18 x 22.50 meter dan tinggi yang tersisa sampai sekarang 20 meter.

Secara vertikal bangunan bangunan ini dibagi tiga bagian yaitu bagian kaki yang merupakan bagian bangunan terbawah sampai bangunan bilik dan selaras, bagian tubuh yang merupakan bagian bangunan yang berdiri di atas kaki yang berfungsi sebagai penutup bilik dan penyangga atap, bagian atap merupakan bagian teratas bangunan yang berfungsi sebagai penutup bilik.

Ditilik dari gaya bangunan dan sisa profil pada bagian atas candi sisi tenggra, kemungkinan candi ini adalah jenis candi agama Budha dan di pekirakan berdiri pada abad 15 Masehi. Pendapat lain ada yang memperkirakan candi Brahu lebih tua dari candi-candi di wilayah Trowulan. Candi Brahu telah dipugar mulai 1990 dan selesai tahun 1995.

CANDI BANGKAL



CANDI BANGKAL
Kategori Obyek : Wisata Wisata Sejarah, Wisata pendidikan
Alamat : Candiharjo Ngoro
Candi Bangkal terletak di Desa Bangkal, Kecamatan Ngoro. Denah candi berbentuk segi empat. Pada kaki candi terdapat tangga menuju bilik candi. Diatas pintu bilik terdapat hiasan kala. Candi ini termasuk salah satu yang masih berdiri kokoh.

Berdasarkan legenda masyarakat setempat pada zaman dulu pernah terjadi gempa bumi, akibatnya banyak rumah penduduk yang roboh, namun Candi Bangkal tetap berdiri utuh, tanpa retak sedikitpun.

Pada waktu tertentu, warga setempat menggelar acara sedekah bumi, salah satunya digelar pentas wayang kulit. Tradisi ini dilakukan setiap sehabis panen.

CANDI BAJANGRATU



CANDI BAJANGRATU
Kategori Obyek : Wisata Wisata Sejarah, Wisata pendidikan
Alamat : Temon Trowulan
Candi Bajang Ratu berlokasi di Desa Temon, Kecamatan Trowulan. Jarak dari kota Surabaya + 72 Km. Dapat dicapai dengan kendaraan pribadi roda 2, mobil dan bus. Transportasi umum yang dapat mencapai ke sana hanya ojek dari simpang empat Trowulan dengan harga yang terjangkau.

Gapura Bajang Ratu berbentuk Paduraksa (gapura beratap), mempunyai sayap di kanan dan kirinya. Terbuat dari bata kecuali lantai dasarnya terbuat dari batu. Berukuran tinggi : 16.1 m, panjang 11 m dan lebar 6.7 m. Relief yang menghiasi gapura dari atas ke bawah antara lain berupa mata satu, kepala garuda, matahari diapit naga, kepala kala diapit singa, binatang bertelinga panjang. Adapun relief yang bermakna cerita adalah relief Ramayana dan relief Sri Tanjung yang dipahatkan pada bagian sayap. Gapura Bajang Ratu dihu-bungkan dengan Prabu Jayanegara, Raja kedua Majapahit, yang meninggal dalam keadaan belum beristri (bujang). Sehingga fungsi yang sebenarnya bukan sebagai pintu masuk menuju keraton Mojopahit melainkan menuju ke suatu bangunan suci, tempat perabuan Prabu Jayanegara

PENEMUAN CANDI PENINGGALAN MOJOPAHIT DI KEC. PURI MOJOKERTO

SIDOARJO– Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, masih menyelidiki temuan dugaan candi di Desa Puri, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto berupa tumpukan batu merah.
Plt BP3 Jawa Timur di Trowulan Aris Sofian, Selasa mengatakan, saat ini BP3 masih melakukan penyelidikan dengan melakukan penggalian di lokasi temuan tersebut.
“Kami masih melakukan penggalian untuk melakukan pembuktian apakah lokasi tersebut berupa candi atau bukan karena melihat ciri – ciri yang ada kami yakin lokasi tersebut bukan candi melainkan pondasi rumah pada zaman Kerajaan Majapahit,” katanya.
Ia mengemukakan, kalau pondasi candi biasanya berbentuk segi empat dan pada lokasi yang digali kali ini berupa persegi panjang dengan ukuran dua kali tiga meter.
“Itu merupakan pondasi bagian rumah dan untuk membuktikannya kami akan melakukan penggalian di lokasi tersebut sampai dengan akhir pekan ini,” katanya.
Ia mengemukakan, pada akhir pekan ini baru bisa dipastikan apakah lokasi tersebut memang benar – benar merupakan candi atau hanya pondasi rumah zaman Kerajaan Majapahit.
Ia menyebutkan, di kawasan tersebut juga ada dua lokasi punden yang diduga sebagai tempat peribadatan umat Hindu pada zaman Kerajaan Majapahit.
Selain itu, beberapa temuan lainnya yakni pecahan genting, lampu berbentuk seperti asbak yang terbuat dari tanah liat (celupak), dan juga fragmen jambangan air.
Bila dibandingkan dengan situs yang ditemukan di Kota Trowulan, temuan kali ini diduga kuat berasal dari akhir zaman Kerajaan Majapahit.

BANTENGAN..., IKON BARU MOJOKERTO

Bantengan, Ikon Baru Mojokerto
Sabtu, 25 September 2010 00:15:16 WIB
Reporter : Misti P.

Mojokerto (beritajatim.com) - Bantengan, seni bela diri khas Kerajaan Majapahit tampil di Festiwal Bulan Purnama, Jumat (24/09/2010). Penampilan ikon baru Kabupaten Mojokerto ini, mampu memukau penonton yang datang di Gapura Wringin Lawang, Desa Jati Pasar, Kecamatan Trowulan.

Sekitar 25 orang silih berganti menampilkan atraksi pencak silat dengan diiringi musik terbang dan jidor. Puncaknya, dua orang tampil, satu orang di depan memainkan kepala dan sekaligus sebagai kaki depan dan satu orang di belakang sebagai pinggung sekaligus sebagai kaki belakang.

Atraksi gerakannya, mengambarkan gerakan dan sikap banteng saat berkelahi. Dalam atraksinya, ditampilkan banteng sedang berlaga dengan satwa lain. ''Seni bantengan pondasi daro baron yaitu seni yang menampilkan ilmu kanuragan saat jaman Majapahit,'' ungkap Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto, Eko Edi Susanto.

Masih kata Eko, dalam seni bantengan ada tiga atraksi yang terdiri dari, baron, kembrangan dan buron alas. "Seni bantengan menampilkan tentang banteng yang berlaga melawan binatang saat di hutan. Seni bantengan ini dibawakan oleh Kentrung Pencak Silat Panji Siliwangi dari SMAN I Gondang,'' katanya.

Selain seni bantengan, Festival Bulan Purnama juga menampilkan Cokean. Yaitu, kerawitan namun tidak menggunakan alat lengkap. ''Hanya ada gending, gong, gender dan slender sebagai pengiring mocopatan. Pengisi acaranya dari Among Tani Mojopahit, disini ditampilkan lintas generasi karena mulai dari anak usia sekolah hingga yang tua tampil bergantian,'' jelanya.

Edi menambahkan, tujuan diselenggarakannya Festival Bulan Purnama, sebagai wadah seniman Kabupaten Mojokerto agar bisa berkreasi. ''Kita juga ingin mengangkat seni Bantengan ini sebagai ikon baru Kabupaten Mojokerto, agar lebih dikenal tidak lagi di dalam maupun di luar negeri,'' harapnya. [tin/but]